“Pak, saya berniat mendaftarkan putri saya di sekolah ini”
“Alhamdulillah, kalau boleh tahu mengapa bapak tertarik?”
“Yang pertama karena disini jilbabnya Panjang, yang kedua karena guru-guru disini masih mengintervensi anak-anaknya dalam hal ibadah, pertanyaan dari guru-gurunya seperti tadi pagi shalat subuh jam berapa, di rumah atau di masjid, menurut saya sangat baik, daripada guru yang cuek terhadap ibadah peserta didiknya” jawabnya panjang lebar
Dalam hati kita patut bersyukur, itulah branding sekolah kita dari dunia luar, dalam dunia marketing ada istilah persamaan dan diversifikasi, apa persamaan kita dengan sekolah luar, dan apa pula pembedanya? Sama-sama sekolah Islam—bahkan sekolah negeri dewasa ini menganut kurikulum yang sama (mengadopsi) dari kurikulum Islam, tetapi apa yang membedakan?
Saya menggunakan istilah, tidak ada anak kembar yang benar-benar sama, sekecil apapun perbedaaan itu tetap ada, seperti sekolah kita dengan sekolah lain, (mungkin) kita mempersilahkan kurikulum kita ditiru, tetapi ada yang luput dari perhatian mereka, bahkan tidak mungkin bisa ditiru, yakni perhatian dan intevensi kita terhadap anak didik, khususnya dalam hal ibadah, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, menjadi nilai lebih kita dibanding dengan sekolah-sekolah lain. Wali murid tadi mengatakan suka dengan sekolah yang seperti ini (mengintervensi ibadah peserta didik) walaupun bisa jadi kita berpandangan, ibadah urusan masing-masing person, tetapi di sekolah ini kita tengag berproses mencetak generasi Islami, salah satunya dengan cara tadi.
Anak-anak ini tentu masih di taraf belajar, salah satu teori belajar adalah pengulangan terus menerus hingga membentuk karakter, para guru di sini menggantikan tugas orangtua di rumah, khususnya dalam hal ibadah. Sama juga ketika kita sayang dengan anak-anak kita, bukan sekedar dimanja, tetapi juga ‘dicambuk’ untuk berproses lebih baik. Kita tak merelakan mereka masuk neraka, cambuk dunia belumlah seberapa dibanding cambuk api neraka, maka cambuklah selagi sekarang. Sampai mereka benar-benar bisa jalan sendiri.
Masa sekolah adalah masa belajar, masa untuk menanamkan karakter, maka ketika mereka ada kurangnya, ada malasnya adalah hal yang wajar, tetapi sekali lagi saya katakan, intervensi guru-guru terhadap ibadah murid-muridnya adalah hal yang langka dilakukan di sekolah lain. Si wali murid yang telah memasukkan anaknya di sekolah swasta islam sebelumnya, sudah membandingkan ke sekolah lain dan tahu bedanya dengan sekolah kita.
Apa yang khas dari sekolah kita ini sering tidak kita sadari jika kita tidak sering berinteraksi dengan wali-wali murid, minimal bertanyalah, mengapa mereka menyekolahkan anaknya di sekolah kita, maka kalian (para guru) akan mendapatkan jawaban yang mencengangkan, saya sendiri juga kaget dan baru menyadari, inilah keunggulan sekolah kita, di tengah budaya egoisme, jawaban yang kita gali dari wali murid kita membuktikan, kita masih punya ciri khas yang dibanggakan
