G
N
I
D
A
O
L

Di Balik Suksesi Punggawa Buletin Amanah: Tetap Eksis di Era Senjakala Media Cetak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa yang melatari Buleti n AMANAH menggelar suksesinya, padahal era ini sering dikatakan era disrupsi informasi, bagaimana tetap bertahan memilih jalan ‘ninja’ ini, berikut cerita dibaliknya

                Era disrupsi informasi bukan berarti kekurangan informasi, justru berkelimpahan informasi, tetapi dari sekian informasi yang berseliweran di sekitar kita, tiada kedalaman, tiada informasi yang benar-benar informatif. Hal ini sudah dibahas dalam John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam bukunya High Tech High Touch, keduanya adalah futurolog yang sangat terkenal dalam Megatrend 2000.

Senjakala media cetak sudah kita rasakan sejak covid 2019 lalu, banyak media yang akhirnya gulung tikar, tetapi Ia digantikan oleh media digital, media sosial yang memang lebih menghibur dan memanjakan mata, menghibur, pembuatannya pun makin mudah menggunakan artificial intelegent (AI) Lantas bagaimana dengan media cetak? Koran-koran memang masih ada, majalah banyak yang gulung tikar, termasuk media islam yang sudah bertumbangan, jauh sebelum covid-19 menyempurnakan kepunahannya.

Koran-koran hanya bersifat informasi straight news, tidak ada indept news atau features yang membutuhkan kedalaman liputan, tulisan yang menghabiskan banyak karakter di tengah ongkos cetak dan harga kertas yang melangit dan sepi iklan. Majalah-majalan dengan idealisme tinggi dan modal besar-lah yang mampu bertahan, sebab bisnis media sekarang juga sedang surut. Seandainya masih ada hanya untuk klangenan para tokoh-tokoh media, membuktikan mereka masih Berjaya, selebihnya mereka semua hanya bisa bertahan.

Sekarang posisi insan-insan media tinggal berada di ujung tanduk, memilih bertahan atau hancur tsnpa berbuat apa-apa. Bagi kita, berbuat atau tidak, kelak kita akan sama-sama hancur ditelan zaman, maka daripada tidak berbuat apa-apa, eksistensi media adalah bagian dari merawat akal sehat dan mempertahankan cara berpikir yang sehat dengan proses yang berdarah-darah, tidak mudah, tidak instant dan mudah, tetapi memang melelahkan, justru ini yang menyehatkan pikiran kita, di tengah generasi yang semakin malas berpikir karena brainroot ini.

Apa yang susah payah diraih, bukannya tidak menyenangkan ketika berproses, begitulah kira-kira prinsip kami, dari Buletin AMANAH ini, terbukti kami memilih jalan ini, jalan untuk menerbitkannya, sebab bisa saja kami tidak menerbitkannya, tetapi kami memang memilih jalan ini sebagai fasilitator bagi guru-guru, ajang pemikirannya yang ingin disalurkan dari dunia pendidikan yang tengah ditekuninya. Guru-guru kita memang harus diasah ketrampilan menulisnya sebagai bukti kalua guru adalah tonggak literasi. Literasi dalam arti membaca dan menulis, membaca yang bukan sekedar membaca administrasi, tetapi benar-benar membaca situasi atau keresahan yang timbul. Dengan sendirinya, mau tidak mau mereka harus membaca untuk menuangkannya dalam tulisan, memadukan kepahaman antara realitas di lapangan dan teori-teori pendidikan. Ada satu rubrik dari Buletin AMANAH yang akan tetap kita munculkan, yakni rubrik Ruang Guru untuk menyatakan keresahan mereka, memberikan solusi atas berbagai masalah pendidikan yang mereka hadapi.

Pada kepengurusan baru ini, kami berusaha menampilkan wajah baru yang lebih segar, walaupun tidak melupakan yang lama, kami ingin media ini sebagai media literasi bagi siswa dan guru dan media informasi bagi orangtua wali murid. Mungkin, orang awam akan mengatakan, “tanpa media, sekolah tetap bisa hidup dan eksis, untuk apa repot-repot membuat media segala, menambah beban para guru” Bagi orang yang tidak memahami media, mungkin akan memuat pernyataan itu, tetapi bagi yang paham fungsi media, media akan mendukung citra baik sekolah itu, walaupun bukan sekedar pencitraan, tetapi memang dihadirkan sebagai penyokong informasi-informasi yang tidak ada di sekolah.

Dulu, pada saat saya mahasiswa, terkesima saya dengan media iklan yang digagas sekelompok mahasiswa komunikasi di Semarang, pada saat media cetak sedang jaya-jayanya. Namanya Tabloid INFO SEMARANG, hanya berisi iklan-iklan, tidak ada berita, tidak ada rubrik, dan hanya melulu iklan, tetapi itu bisa membuat pemiliknya kaya raya, tabloid itu diletakkan di tempat-tempat strategis, fasilitas publik hingga BUMN. Mengapa ide itu menarik, karena memperlihatkan wajah ibukota, kebangkitan ekonomi sekaligus informasi jika kau mau berkunjung ke Semarang, dimana harus makan, dimana harus menginap, sangat informatif sekali.

Kami mengharapkan seperti itulah sifat informatif dari Buletin ini yang akan mengcover semua informasi tentang unit pendidikan dan Yayasan. Memang kita mengakui kelemahan dari media cetak yang kurang up to date dibanding media sosial digital, tetapi bukan berarti media sosial digital juga tanpa kelemahan, seperti yang saya kat tadi, Ia lemah dalam hal kedalaman isi atau materi, analisis, yang bahkan tidak bisa dikerjakan oleh AI, sebab bagaimanapun juga pikiran manusia tidak akan pernah tergantikan oleh kecerdasan palsu, bukankah manusia yang membuat AI, bagaimana mungkin manusia malah menyerah pada AI?

Saya sendiri termasuk generasi di atas Z, hidup saya telah ditempa banyak kesulitan dan proses berdarah-darah, barangkali jika para pembaca seusia dengan saya pasti merasakan susahnya sewaktu membuat skripsi, harus berburu buku di perpus, harus riset, mengadakan kuesioner dan lain sebagainya agar kualitas skripsi kita berbobot. Demikian pula buletin ini adalah kawah candradimukanya gutu-guru dalam menuangkan pikirannya lewat tulisan, dengan garis bawah ini semua buatan sendiri, bukan buatan AI untuk membuktikan seberapa berkualitas guru-guru kita, jika guru-guru berkualitas, bukannya kualitas sekolah juga meningkat, dan insya Allah, kemampuan menulis yang dimiliki oleh guru-guru akan memiliki manfaat di kemudian hari, insya Allah

 

Kami mengucapkan terima kasih pada Tim Buletin yang lama

Ketua : Wiwid Prasetiyo, S.Sos.I

Sekretaris : Fitrian Imaddudin, S.Sos,I

Bendahara : Soelastri, S.Pd

Kontributor : Miftahus Surur, S.Pd.I

Sriyati, S.Pd

Lilis Budiarsih, S.Pd

Selamat Datang Kru Buletin Amanah Periode 2026-2028

Ketua : Wiwid Prasetiyo, S.Sos.I

Sekretaris : Fitrian Imaddudin, S.Sos. I

Bendahara : Sriyati, S.Pd

Kontributor : Eka Prasetyaningtyas, S.Pd (KB-TK)

Dwi Apri Kurniawan S.S (SD)

Nur Jiyanti (SMP)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *