Dalam sistematika wahyu (SW) khususnya Surat Al Muzammil, banyak azimat yang bisa kita petik. Ust. Soenoto Achmad, Pembina Yayasan Amanah Hidayatullah Grobogan sekaligus Ketua Dewan Murabbi Wilayah Jawa Tengah menjelaskannya dengan penuh hikmat pada para kader mitra juang, baik dari unit pendidikan, maupun unit lainnya di bawah DPD Hidayatullah Grobogan seperti SAR Hidayatullah, Mushida (Muslimat Hidayatullah), Pemhid (Pemuda Hidayatullah), BMH (Baitul Mal Hidayatullah, BTH (Baitulmal wa Tamwil Hidayatullah), RQH (Rumah Qur’an Hidayatullah Kradenan dan lain sebagainya.
Azimat dalam kosakata bahasa Arab artinya ketetapan hati yang kuat, tekad bulat, perintah tegas dan lain sebagainya. Hampir mirip dengan kata azzam yang artinya tekad kuat. Namun sekarang artinya sering disalah-artikan dengan jimat, padahal itu justru mengecilkan makna yang sesungguhnya. Sebagai agama yang sempurna, agama ini juga memiliki pegangan yang dapat diandalkan untuk umatnya, tetapi Ia bukan jimat, melainkan pegangan yang bersandarkan hanya pada Allah sebagai sandaran yang kuat dan tidak akan bisa rapuh seperti sarang laba-laba.
Bersandar pada Allah berarti bersandar pada sumber-sumbernya yang kuat, yakni Al Qur’an dalam konteks Hidayatullah yang telah dipahami bersama telah merumuskannya dalam SW (Sistematika Wahyu), yakni kelima surat dalam Al Qur’an (Al Alaq 1-5, Al Qalam1-10. Al Muzammil 1-10, Muddatsir 1-7, Al Fatihah 1-7) sebagai sistem panduan hidup bahagia seorang muslim, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ustadz Masrukin, S.Ag salah seorang Pembina Yayasan Amanah Hidayatullah Grobogan. Jika diuraikan secara panjang lebar, kelima surat di atas ini tidak bisa dipisahkan karena menjelaskan bagaimana seharusnya seorang muslim bertauhid, berakhlak, melakukan amal ibadah yang utama seperti shalat malam, membaca AL Qur’an dengan tartil hingga tabattul atau fokus ibadah, berdakwah hingga membentuk peradaban.
Pada hari sabtu kemarin (26/7) Ustadz Soenoto Achmad dalam Pembinaan Mitra Juang memperdalamnya dalam satu surat saja, yakni Surat Al Muzzammil ayat 1-10. Surat itu memiliki arti penting bagi seorang muslim, jika ingin meraih kebahagiaan. Surat yang memiliki pengalaman sejarah bagi kader-kader Hidayatullah awal, seperti Ustadz Soenoto, dimana Beliau meraup ilmu dari Ustadz Abdullah Said sendiri, “Kalau seorang muslim tidak shalat tahajjud akan cacat spiritualnya” Karena shalat tahajjud tidak hanya mengangkat seorang muslim pada derajat yang mahmudah (terpuji) tetapi juga memberikan perkataan-perkataan yang berat (qaulan tsaqilan) baik berupa tuntutan maupun tanggung jawabnya, tetapi dengan seseorang tahajjud, jiwanya dikokohkan oleh Allah untuk menerimanya (Nabi Muhammad), sekaligus perkataannya memiliki daya gerak / dorongan bagi hati untuk melaksanakannya atau membuka hidayah bagi umatnya.
Seorang guru misalnya, bila Ia tidak tahajjud, maka perkataannya akan hambar dan tidak bermakna, muridnya tidak akan percaya atau nasehatnya tidak akan meresap ke dalam hati. Demikianlah yang para ulama contohkan, orang-orang dahulu, para pendiri Islam dan lain sebagainya. Warisan yang diteruskan oleh Ustadz Abdullah Said, dimana orang-orang Hidayatullah selalu dilabeli, “Kalau shalat tahajjud lama”tentu itu bukan pelabelan yang buruk, malah suatu kebanggaan. Maka, pada sesi pembinaan itu Beliau bertanya pada para kader, “Siapa yang tadi malah tahajjud?” Apa yang dikatakan Ustadz Soenoto bukan sekedar jarkoni (iso ujar ra iso nglakoni) tetapi telah Beliau praktikkan sendiri bersama para santrinya di Sekolah Hidayatullah Al Kahfi, Surakarta. Ada cerita lucu dimana Beliau saking ‘khusyuknya’ sampai tidak bangun dari sujud—yang ternyata tertidur pada saat sujud dan ditinggal oleh para santrinya. Mungkin tak patut dicontoh, tetapi ini bagian dari perjuangannya (mujahadah) seorang muslim untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah pada Allah.
Dengan kata lain adalah tabattul, dalam al Muzammil ayat 8 wa tabattal ilaihi tabtila yang memiliki arti memutus pada sesuatu yang selain Allah dalam segala hal, ayat ini adalah kesinambungan dari ayat 7, ketika di siang hari kita tidak memiliki cukup waktu untuk beribadah pada Allah, maka pada malam hari adalah waktu yang tepat, disaat tidak ada lagi kesibukan, maka seseorang diharapkan untuk dapat bersungguh-sungguh dalam beribadah hanya fokus tujuannya benar-benar untuk menyembah Allah. Jika ini bisa dilakukan, maka segala urusan dunia akan diperbaiki dengan sendirinya, bahkan seseorang akan diganjar dengan maqam yang terpuji, demikian pungkas Ustadz Soenoto Achmad
Berbeda dengan pembinaan sebelumnya, dimana sesi awal dilakukan dengan halaqah bersama belajar tajwid dari Al Hidayah, pada pembinaan kali ini diawali dengan khataman Qur’an, setiap kader membaca 1 juz yang berbeda dengan kader lainnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya bersama, penyampaian informasi dan motivasi dari Ketua Yayasan dan DPD Hidayatullah Grobogan, Ustadz Slamet, S.Kom, dan diakhiri dengan sesi tanya jawab dari BTH (Baitulmal wa Tamwil Hidayatullah) karena memang unit usaha ekonomi / keuangan ini baru dirintis di Grobogan baru-baru ini. []
