Alangkah bangganya Sekolah Integral kurikulumnya sekarang diikuti oleh sekolah-sekolah Integral. Salah satunya adalah pembiasaan Shalat Dhuha di awal pembelajaran. Mungkin nampaknya ini sederhana tapi berdampak luar biasa bagi perkembangan siswa, banyak peneliti telah membahasnya, seperti apa hasilnya?
Pagi itu, pukul 7.00, murid-murid yang baru sampai di gerbang setengah berlari menuju kelas untuk menaruh tas, Ia sudah ditunggu teman-temannya di musholla dalam pendampingan bapak ibu guru untuk melaksanakan shalat dhuha. Memang shalat dhuha bukan shalat wajib, tetapi fadilah dan manfaatnya begitu besar. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang shalat dhuha empat rakaat, Allah akan membangunkannya satu rumah di surga” HR Thabrani. Di sisi lain, shalat dhuha adalah sedekah bagi ruas-ruas jari, kalimat tasbih, tahmid, takbir dan tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah mencegah pada keburukan adalah sedekah, dan semua itu dapat terpenuh dengan shalat dhuha. (HR Muslim)
Bagi orang awam yang memandang, nampaknya ini seperti membuang-buang waktu saja, dengan shalat dhuha plus asmaul husna plus zikir pagi waktu akan terbuang antara 30-45 menit. Tetapi itulah strategi pembelajaran yang sudah dipraktikkan sejak awal sekolah ini berdiri, dengan pembiasaan shalat dhuha, malah kita melihat, sekolah-sekolah negeri lain menirunya. Para pengelola sekolah integral sejak awal sudah meyakini, pembiasaan shalat dhuha ini sebagai kebiasaan yang positif, bahkan sebagai salah satu strategi pembelajaran yang efektif untuk mengisi pembelajaran dengan pengisian spiritual.
Banyak peneliti telah melakukan riset yang menghasilkan beberapa Kesimpulan seperti ini: Misalnya Siti Nurhaliza dan Kawan-kawan dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta meneliti siswa Madrasah Tsanawiyah tentang Pengaruh Pembiasaan Shalat Dhuha terhadap Kosentrasi Belajar Siswa, hasilnya 28-35, % tingkat konsentrasi belajar/ fokus siswa meningkat dibandingkan siswa yang tidak melakukan shalat dhuha. Bagaimana konsentrasi mereka dapat tinggi, tak lain karena Shalat Dhuha dapat menurunkan hormon stress (kortisol) dan melatih kedisiplinan. Jika setelah shalat dhuha mereka berdoa, akan semakin menenangkan pikiran dan menambah kepercayaan diri dalam belajar. Pembiasaan Shalat Dhuha ini juga membuat siswa jarang gelisah, melamun dan lain sebagainya, serrta membantu siswa untuk memahami materi yang lebih sulit dan lebih menangkap penjelasan gu
Sementara itu, Muhammad Fauzan dan kawan-kawan, peneliti dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta juga meneliti pembiasaan Shalat Dhuha, tetapi dengan output mental (kesiapan untuk belajar) yang hasilnya 22-30 % setelah pembiasaan Shalat Dhuha mereka siap untuk belajar, sedangkan sisanya dari faktor eksternal yang membentuknya seperti lingkungan, teman, cara mengajar guru juga menjadi kunci bagi kesuksesan belajar siswa. Ada temuan menarik juga dari Muhammad Fauzan dan Kawan-kawan ini dalam penelitiannya, dengan pembiasaan Shalat Dhuha selain menghilangkan rasa panik pada saat ulangan, atau menyelesaikan soal-soal rumit, tetapi juga menghilangkan rasa kantuk di jam-jam rawan (siang hari) tentu ini akan menjadi perhatian kita selaku pendidik untuk tidak sekedar melaksanakan program ini secara asal-asalan, tetapi benar-benar tahu manfaatnya untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.
