Pada hari senin 24/8 warga di Grobogan ikut berbahagia menyambut kemerdekaan dengan karnaval, instansi pemerintah, sekolah negeri, swasta hingga UMKM kreatif ikut pawai di jalan-jalan dengan mobil hias yang sengaja dipamerkan untuk menarik perhatian masyarakat umum, ini sekaligus sebagai ajang promosi gratis atau untuk pengenalan ke masyarakat. Memang tujuannya bagus, karnaval ini selalu ramai ditonton, tetapi begitu menguras tenaga dan waktu, karena persiapan untuk menghias kendaraan karnaval sudah jauh-jauh hari, peserta karnaval sudah didandani dari pagi sampai sore, disinilah masalah mulai muncul karena terkadang karnaval dilangsung satu hari penuh dan menabrak waktu shalat sehingga terkadang dengan sengaja meninggalkannya, tentu dengan berbagai macam alasan
Agustus 2025 lalu …. peserta karnaval putri sudah didandani pakaian penari, juga make up tebal, sebut saja namanya Siska, siswi kelas SMU negeri, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, kendaraan pawainya mendapat antrian nomor 50, bisa jadi pukul 17 atau 17.30 baru jalan, hatinya resah, dia belum shalat, keresahan itu diungkapkan pada temannya Febri
“Aduh, Feb, aku belum shalat zuhur nih” Siska nampak gusar
“Iya, sama dong” Febri temannya lebih nyantai, padahal sama-sama belum shalat
“Masjid dimana ya, aku shalat dulu ya …” Siska memutuskan
“Eh, jangan, sebentar lagi berangkat lho, lagian kalau bedak lu kena air wudhu bakalan luntur lho, aku nggak mau make-upin lagi lho” Febri setengah mengancam
“Habis, gimana dong …” Siska makin panik
“Udah, nanti shalatnya dijamak aja” saran Febri
“Enak aja, emang gue mau pergi jauh?” Siska menolak, dia tahu menjamak shalat tidak seenaknya begitu
“Daripada lu shalat lagi, tapi nanti ribet harus make-upin lu lagi, harus masang segala macam pakaian lu yang semuanya butuh waktu dan tenaga?”
Tapi apa daya, dalam hatinya dia bersumpah, tidak akan ikut karnaval-karnaval begini lagi, kapok dirinya, shalatnya terabaikan, akhirnya dalam keramaian para penonton di pinggir jalan raya yang memuji parasnya yang cantik, pakaiannya yang menawan, dan kendaraan hias yang dinaikinya, wajah Siska memang tersenyum, sesekali melambaikan penonton, tetapi hatinya sedih, Ia merasa bersalah shalatnya terabaikan, tak terasa waktu berlalu zuhur dan ashar dilewatinya begitu saja.
Hari itu mungkin ada Siska-Siska lain yang masih punya iman dan merasa menyesal shalat terabaikan begitu saja, alasannya sama, ribet!, bedak luntur, pakaian yang dikenakan juga tidak mudah, apalagi masjid juga tempatnya jauh, jadinya, shalat dan tidaknya seseorang tergantung urusan iman masing-masing, kalau imannya kuat, seseorang tidak peduli mau harus make-upan lagi, mau pakai pakaian yang ribetnya minta ampun, tetap mereka lakukan daripada kelak dibakar di api neraka karena tidak shalat
Merayakan kemerdekaan sah-sah saja ikut mangayu bagya berpartisipasi dalam karnaval atau kendaraan hias yang bertujuan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan, namun sebaiknya hal itu tidak berlebihan. Ada batas-batas seorang muslim / muslimah dalam merayakannya, salah satunya jangan sampai mengabaikan waktu shalat, sebab shalat adalah yang membedakan seorang mukmin dan kafir, sebagaimana sabdanya, “Yang memisahkan seseorang hamba dengan kekafiran serta kesyirikan adalah shalatnya” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Muslim) Shalat juga tidak boleh dilakukan kapanpun secara sembarangan, melainkan ada waktunya yang tidak boleh dilanggar antara shalat satu dengan yang lain. Surat An Nisa ayat 103 menjelaskan hal ini “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban seorang mukminin yang telah ditentukan waktunya”
Jika seseorang ingin menjamak shalat hal itu boleh-boleh saja, sebab agama ini sebenarnya ringan dan mudah untuk diamalkan, namun tidak boleh digampangkan. Syarat dari menjamak shalat ada beberapa diantaranya adalah sakit, dalam bepergian sehari penuh, tetapi yang bisa dijamak hanya zuhur dan ashar atau maghrib dan isyak, juga boleh diringkas rakaatnya menjadi jamak taqdim qasar (shalat zuhur dan ashar masing-masing 2 rakaat dilaksanakan di waktu zuhur) atau jamak takhir qasar (shalat zuhur dan ashar masing-masing 2 rakaat dilaksanakan di waktu ashar) syarat yang lain adalah alasan cuaca buruk yang menyulitkan berjalan ke masjid hingga ancaman keamanan, dalam situasi perang atau bencana lainnya. Dengan syarat-syarat seperti ini, kita tidak perlu menjelaskan lagi, kira-kira menjamak shalat pada saat karnaval boleh atau tidak, seperti saran Febri tadi?
Kini, di tahun 2026, karnaval kemerdekaan kembali digelar oleh pemerintah kabupaten grobogan, jika tahun 2025 lalu waktunya 2 hari, di tahun ini waktunya hanya sehari pada tanggal 24 Agustus 2026 dari pukul 10.00 WIB, dengan pendeknya waktu dan jumlah peserta karnaval yang sama banyaknya dengan tahun kemarin akan menjadikan waktu kian panjang, keasyikan menonton karnaval bisa membuat para penonton lupa waktu, begitu juga dengan para peserta, akan muncul suara-suara keresahan dalam hati mukminin / mukminat yang masih punya iman, tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama tahun lalu,
Jika karnaval/ pawai kendaraan hias pada dasarnya untuk mensyukuri kemerdekaan yang sudah ke 81 tahun, tentu tidak elok merayakannya tanpa shalat didalamnya, sebab shalat salah satu ujud rasa syukur kita pada Allah atas anugerah kemerdekaan ini, apa jadinya jika dirayakan tanpa shalat, sebelum sesal itu datang kemudian, kita harus berhati-hati potensi untuk mengabaikan waktu shalat sangat besar, bisikan setan untuk menunda waktu shalat hingga melewatkan waktunya dengan sengaja adalah kehinaan yang besar, sebab kita meninggalkan shalat untuk urusan yang tidak terlalu penting menjadi peserta / penonton karnaval.
