Realitas dalam dunia pendidikan, terutama untuk menangani anak didik mirip dengan kondisi masyarakat, dimana seorang guru akan menemui anak dengan berbagai macam karakter, ada yang taat, tertib, namun banyak pula yang menjadi biang kerok, pengacau dan sulit sekali dalam menyerap ilmu pengetahuan yang diajarkan seorang guru.
Jika seorang guru berputus asa dan tidak sabar dalam mengatasi berbagai macam karakter peserta didik tersebut, tentu anak-anak itu takkan pernah menjadi orang sukses.
Seorang guru yang sabar tidak akan terburu-buru mendapatkan hasil dari buah didikannya, Ia seperti menanam pohon kelapa, dimana dia menanam sekarang, namun belum tentu sampai di penghujung usianya memanen buah kelapanya.
Seorang guru yang sabar bukan berarti tidak pernah marah, tetapi marah adalah bagian dari pendidikannya, Ia tahu menempatkan diri kapan harus marah dan kapan harus bersikap lembut
Rasulullah, murabbi kita, guru kita juga pernah marah, pada istri Beliau Aisyah yang pernah tertuduh berzina, Rasulullah mendatanginya hanya menyapanya sebentar, lantas Beliau memilih pergi dan tidak menemuinya sebelum ada kejelasan permasalahannya.
Bahkan, seorang guru mendapat pahala yang berlipat-lipat kala muridnya sulit menerima pelajaran, semakin sulit semakin besar pahalanya. Beragamnya cara peserta didik dalam menyerap pelajarannya, atau dalam soal akhlaknya adalah ladang pahala bagi gurunya.
Seorang guru di Cina bernama Amy, memiliki seorang murid yang pendiam bernama Kah Zen, Ia mengira anak itu bodoh, karena Ia tak pernah terlihat melalukan apapun dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh gurunya. Amy berpikir perlu mendekatinya secara khusus, perlahan-lahan Amy menuntunnya, dan setelah satu semester ini terlihat Kah Zen tidak melakukan apapun, hingga Amy harus ke rumah orangtuanya dan bertanya, mengapa Kah Zen tidak pernah serius dalam mengikuti pelajaran darinya.
Bukannya jawaban yang didapat, Amy, Sang Guru justru mendapat sanjungan dari orangtuanya karena perlahan-lahan sang anak benar-benar berubah, “Apa yang telah ibu guru lakukan pada anak kami, sehingga kami tidak pernah merasakan perkembangan sepesat ini sebelumnya?”
Amy semakin bingung karena Ia merasa tidak melakukan apapun pada anak tersebut, dan Ia merasa semua yang dilakukan sia-sia belaka. “Memangnya apa yang terjadi pada anak ibu?”
“Dulu anak kami sangat pemalu, tetapi lihatlah apa yang terjadi, semua buku catatannya penuh, PR-PRnya juga sudah dibuat.”
“Bagaimana dia melakukannya?”
“Kebetulan tukang kebun sekolah rumahnya dekat kami, setiap malam kami meminjam kuncinya agar Kah Zen bisa masuk dan mencatat semuanya dari papan tulis yang belum terhapus. Di rumah Ia juga gigih sekali belajar, Ia mengerjakan PR sampai larut malam, bahkan pada saat kami sudah tertidur, Ia masih terus mengerjakan.
Sekarang kami ganti bertanya, kata-kata sakti apa yang ibu guru sudah katakan, sehingga Ia benar-benar mengubah Kah Zen dari yang tadinya malas belajar hingga menjadi rajin?”
Mendengar penjelasan itu Ibu Guru Ami tersipu malu, Ia mengingat-ingat lagi kata-kata apa yang pernah diucapkannya, maka perlahan Ia menggelengkan kepalanya, tetapi orangtua Kah Zen berkata, “Tidak …tidak mungkin, pasti ada, coba ibu ingat-ingat lagi.”
“Pernah memang saya mengatakan, ya sudah Kah Zen kalau kamu memang tidak mau berubah, berarti kau merelakan orangtuamu selamanya dalam kesengsaraan, karena kau, tulang punggungnya tidak mengerti penderitaan ibumu …”
“Nah, itu dia ….”
Wahai guru-guru, jangan berputus asa dari rahmat Allah, jangan gentar jika akibat dari apa yang kau
lakukan menjadikanmu dipenjara, dihina atau bahkan mendatangkan musibah, semua adalah bagian dari ujian Allah pada dirimu. Jadikanlah murid-muridmu yang kurang pandai atau berakhlak kurang itu sebagai cambuk pelecut.
Tak semua maksud baik juga diterima dengan baik, beberapa banyak ajaran kebaikan mandek di tengah jalan karena penafsiran orang belum sampai pada kebenaran itu. Jika resiko dari kebenaran yang kau sampaikan dipahami salah, maka bersabarlah, kedudukanmu tetap mulia, sebagaimana Allah memuliakan ahli ilmu, “Allah mengangkat orang-orang yang beriman beberapa derajat, yakni orang-orang yang menuntut ilmu.”
Lho, bukankah ayat ini untuk penuntut ilmu (murid)? Penuntut ilmu tak hanya murid, seorang guru yang belajar untuk mentransfer ilmunya adalah juga seorang penuntut ilmu, bahkan dengan ilmu yang ditransferkannya bukannya menjadi hilang tetapi malah bertambah.
Apabila dengan kekerasan mereka lari, maka berlaku lemah lembutlah, apabila dengan lemah lembut membuat mereka menghinakanmu, maka tetapkanlah peraturan yang tegas, apabila peraturan yang tegas membuat mereka takut, maka anggaplah mereka sebagai teman. apabila menjadi teman membuat harga dirimu turun, jadilah bapak untuk mereka dan lain sebagainya.
Kesabaran seorang guru terletak pada seberapa banyak metode dan strategi yang harus dimilikinya untuk mencerdaskan muridnya, tak hanya kecerdasan akal, tetapi juga kecerdasan jiwa (keimanan) yang semakin tertanam untuk mengenal Allah.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menunjukinya pada satu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakan.” (HR Muslim)
Bahkan, kebaikan itu akan berlipat jika diamalkan oleh orang lain, kemudian terus menerus diamalkan oleh orang lain lagi menjadi amal shalih. Amal yang tiada terputus walaupun yang mengamalkan sudah meninggal dunia.
“Barangsiapa yang menjadi pelopor kebaikan, lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya, dan tidak mengurangi ganjaran yang diperoleh” (HR Muslim)
Pungkasnya, tugas seorang guru bukan membuat seorang murid menjadi pintar, nanti guru tersebut akan kesal kala yang didapat bukan kepintaran, tetapi hanya kesabarannya saja dalam berproses mentransferkan ilmu dan adabnya kepada muris-muridnya ini, yang jauh lebih mahal daripada mendapatkan kepintaran yang instant, mental seperti itu bukan mental seorang guru, tetapi mental pedagang dimana dia ingin segera menjual barang dan ingin segera mendapatkan keuntungannya pada saat itu juga. Ingatlah pesan Mbah KH Maimun Zubair, pintar dan tidaknya anak didik itu urusan Allah, tugas kita hanya mendidik saja. []
