G
N
I
D
A
O
L

Kecerdasan Naturalis, Melatih Peserta Didik untuk Peduli Lingkungan, Sosial dan Sesama Makhluk Allah

 

Asih (19 th) seorang remaja putri asal Jakarta yang membentuk komunitas cat lovers, Ia mengumpulkan kucing-kucing jalanan dan memberi makan, serta bersama-sama pecinta kucing lainnya melawan manusia yang kejam terhadap binatang, serta berupaya untuk menegakkan aturan UU no 41 tahun 2014 tentang perlindungan hewan yang selama ini mandul

 

Awal mulanya ketika Ia masih sekolah (SMP) melihat seekor kucing sampai kakinya patah, dan si penabrak bukannya bertanggung jawab malah menggeber motornya kencang-kencang, menjadikan empatinya tumbuh, Ia membawa kucing itu di rumah, diberi makan dan dipeliharanya sampai benar-benar sehat, itulah yang melatarinya punya jiwa penyayang pada binatang. Meskipun Ia bukan seorang naturalis sejati, tetapi sebuah peristiwa pahit membuatnya lebih kenal pada dunia binatang berbulu ini secara mendalam. Ia membentuk komunitas lewat media sosial, mengumpulkan orang-orang yang memiliki minat sama terhadap kucing, hingga berjejaring dan kerap mengadvokasi pemilik kucing yang menjadi korban kekejaman manusia. Di rumahnya, Semarang Barat, rumahnya dipenuhi oleh kucing-kucing jalanan yang sengaja dipelihara, “Kucing itu sebenarnya binatang rumahan, mas, Ia belum tentu bisa mencari makan sendiri kalua dilepaskan di luar.” Katanya

Sosok Asih benar-benar menginspirasi para pendidik, ketika pendidikan kita hanya berkutat pada kecerdasan IQ, mereka lupa dengan kecerdasan lain yang sebenarnya dimiliki manusia dari dalam dirinya tapi tidak dipupuk. Howard Gardner dalam bukunya Kecerdasan Majemuk mengatakan, ada Sembilan kecerdasan yang dimiliki manusia, seperti IQ, EQ, Kinestesis (senang berolahraga), Visual (pelukis—yang mampu melihat sisi visual lain yang tidak pernah dilihat oleh manusia lain), auditori (senang mendengar suara-suara) bahasa (seorang polyglot menguasai beberapa bahasa sekalgus dan kecakapan dalam berbicara, hingga naturalis (sebagaimana contoh yang kita sebutkan, yakni Asih) Mereka yang memiliki kecerdasan ini memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan sekitarnya, menurut Howard Garner yang paling cocok untuk pekerjaan ini adalah seorang botani, zoologi, ahli taksonomi Carolus Linnaeus, karena pada hakikatnya mereka adalah pengamat yang teliti terhadap lingkungan sekitarnya, mengetahui perubahan alam, suka berpetualang, menjadi penyayang binatang adalah sedikit saja kemampuan yang dimiliki oleh si potensi bakat naturalis ini. Sama seperti Asih, mungkin sekolah tidak mengajarkannya, tetapi pengalaman dan sebuah peristiwa yang mengguncang jiwanya menjadikannya penekun profesi ini.

Sekarang kita bertanya, sudahkah sekolah kita mengasah bakat-bakat naturalis kita? Nampaknya kurikulum kita lebih berkutat pada intelektual, bahkan tidak ada sentuhan emosional apalagi mengarahkan mereka menjadi seorang naturalis. Epistemologi ilmu pengetahuan dalam filsafat barat mempertahankan perdebatkan telur dan anak ayam, yang mana lebih dulu muncul, akal atau hati (iman) tanpa melibatkan pengalaman, tempat tinggal, hingga suatu kejadian yang mengguncang. Ada yang lebih luas dan jarang dibahas adalah kepedulian terhadap sesama, simpati dan empati pada sesama manusia atau makhluk sosial lainnya yang diantaranya. Sampai-sampai kita mendengar adagium ‘pengalaman nyata adalah pelajaran yang tidak didapat di bangku kuliah”

Beberapa hari ini, yayasan kita menghimpun dana dari wali murid dan donatur dan simpatisan untuk menyalurkan air bersih ke wilayah-wilayah Grobogan yang kekeringan karena kemarau panjang. Yayasan melibatkan anak-anak SMP dan SD dalam kegiatan tersebut, anak-anak terlihat antusias saat penyaluran tersebut, pertanda ini akan menjadi pengalaman terindah dalam hidupnya. Mereka bisa belajar untuk bersimpati atau empati pada masyarakat di sekitarnya. Guru yang mendampingi bisa mengajarkan, bagaimana seandainya, mereka berada di posisi masyarakat itu, tentu mereka juga akan menderita. Dengan ikut membantu masyarakat yang kekurangan air, mereka juga bisa turut merasakan penderitaannya. Aksi serupa juga sering dilakukan oleh anak-anak sekolah Integral untuk menggalang dana terhadap wilayah yang terdampak bencana alam, baik gempa bumi atau tsunami, dari berbagai tempat, seperti Lombok, Palu Yogya dan lain sebagainya. Anak-anak turun ke jalan memungut sumbangan dari pengendara mobil, motor hingga pengguna jalan lainnya, anak-anak sama sekali tidak malu dan antusias, pertanda kepedulian mereka semakin meningkat terhadap saudara-saudara mereka dari tempat lain yang terkena bencana. Bagi mereka, terlalu ringan hanya sekedar memnta sumbangan ke jalan raya, daripada saudara-saudara mereka yang terdampak bencana, kehilangan rumah, harta benda dan anggota keluarga itu jauh lebih menyedihkan.

Meskipun pelajaran untuk menarik sumbangan di jalan, membantu rakyat kecil yang kekeringan air tidak ada dalam pelajaran sekolah, tetapi itu bagian dari pelajaran non akademis yang berupaya dihidupkan oleh sekolah integral untuk menumbuhkan simpati dan empati, dan kelak menjadi bekal mereka menjadi seorang naturalis. Disadari atau tidak, kelak akan ada pengalaman yang melekat dan terus diingat, betapa mereka juga dibekali dengan pendidikan untuk cinta pada lingkungan, sesama manusia dan makhluk Allah lainnya, siapa tahu menjadi Asih-Asih lainnya di masa depan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *