G
N
I
D
A
O
L

Batik, dari Surakarta Mengobarkan Jihad Ekonomi

 

Apa yang kita tahu dari batik? Motifnya, cara pembuatannya, atau bagaimana kain itu pada akhirnya turun kasta dari pakaian raja-raja hingga sekarang kita saksikan semua orang bisa memakainya, namun yang lebih penting dari itu, batik adalah salah satu symbol perlawanan terhadap penjajahan di bidang ekonomi, bagaimana bisa?

 

Di masa Majapahit dan Mataram Islam, batik adalah pakaian mewah milik raja-raja atau kerabat keraton, hanya mereka yang boleh memakainya. Batik berasal dari kata amba dan titik, maksudnya batik berasal dari kain amba (luas) kemudian dilukis dengan goresan dan titik. Batik membuktikan betapa homo simbolicus-nya manusia karena dari setiap goresan yang dihasilkan membentuk corak tertentu, memiliki makna sendiri. Para raja dan pejabat kerajaan dalam situasi berperang atau hendak memutuskan kebijakan menggunakan motif Parang Wenang simbol kemenangan. Saat mereka berduka menggunakan motif kawung (kahanan suwung) dan lain sebagainya.

Seiring dengan berjalannya waktu batik makin populer, sekitar tahun 1900-an, pedagang batik asal Laweyan Surakarta waktu itu merasakan sistem yang tidak adil terhadap perekonomian, Pemerintah kolonial memberi keleluasaan pada pedagang tionghoa untuk memonopoli perdagangan mori (kain batik) hingga zat pewarnanya. Sementara itu para pedagang pribumi harus membayar mahal untuk monopoli perdagangan mereka. Di sisi lain, pemerintah kolonial Belanda waktu itu memang mengklasifikasi penduduknya, yang paling Istimewa adalah golongan Eropa dengan hak dan privilege yang Istimewa, golongan kedua adalah Timur Asing seperti Arab dan Tiongkok sebagai bangsa asing yang memiliki kedudukan Istimewa dan yang terakhir adalah pribumi.

Termasuk dalam monopoli perdagangan itu, Tionghoa diberi keistimewaan yang membyat Haji Samanhudi tidak tinggal diam dan mendirikan Sarekat Dagang Islam, tujuannya adalah membentengi pribumi dari ketergantungan terhadap asing, khususnya Tiongkok dan mampu berdiri sendiri mengatasi tekanan finansial dari Tionghoa.  Siapa yang menyangka, ini adalah embrio dari perlawanan terhadap ketertindasan yang diawali dari tekanan ekonomi. Mereka patungan untuk membebaskan pedagang batik kecil yang terlilit utang oleh Tionghoa. Dengan dibentuknya SDI ini mereka mampu memutus perantara dari para tengkulak sehingga modal dapat ditekan. Sebagaimana yang kita baca, dalam perkembangan organisasinya, SDI berubah menjadi SI atau Sarekat Islam sebuah gerakan politik cikal bakal pergerakan nasional

Di masa pendudukan militer Jepang tahun 1944, Jepang membentuk organisasi Jawa-Hokokai menggantikan PUTERA—Pusat Tenaga Rakyat yang tujuannya untuk memasok tentara dalam Perang Pasifik yang kelak pangkalan militer Amerika di Pearl Harbour, Hawaii diserang oleh Pasukan Kamikaze, Jepang. Akibat kemelut politik global itu pasokan kain menjadi sangat sulit di Indonesia, sehingga para pengusaha batik pesisir menciptakan gaya baru batin dengan motif yang berbeda dalam satu kain yang sama untuk menghemat kain. Motif batik yang digores adalah campuran dari berbagai macam budaya dari Tionghoa hingga Jepang dan Jawa. Batik motif Jepang menggunakan hiasan bunga Sakura, batik motif Tionghoa menggunakan lambang merak, naga dan bunga-bunga. Sementara motif jawa masih dengan tradisi mataraman-nya.

Di luar dugaan batik menjadi pakaian yang banyak disukai, permintaanpun makin banyak, sementara di masa itu Ketika batik pengerjaannya masih digores dari tinta ke kain mori dengan canthingnya, butuh waktu bermingg-minggu untuk menyelesaikannya, maka muncul gagasan untuk mengecapnya dari plat tembaga, di samping pengerjaannya ringkas, biaya produksi juga lebih efisien. Mungkin batik tulis lebih artistik dan punya gaya berbeda satu dengan yang lainnya tapi pembuatannya lama dan tidak dapat memenuhi pangsa pasar. Maka batik cap adalah solusinya, tak hanya cepat pembuatannya dan murah, tetapi hasilnya tidak kalah bagus dengan batik tulis walau terlihat monoton.

Tahun 2009 batik diakui oleh UNESCO dan pada 2 Oktober 2009 menjadi hari batik nasional. Tak hanya batik tulisnya tetapi juga batik capnya. Sebagai warisan budaya tak benda. Ia tumbuh dalam perjalanan berbangsa dan bernegara, menjadi kearifan lokal masing-masing. Di Semarang, batik dengan motif burung hong dan burung srondol adalah motif unik yang hanya ada di Semarangkarena waktu itu ada fenomena burung srondol yang menjatuhkan diri ke jalanan hingga diinjak mobil dan motor. Sementara di Grobogan, para guru Hidayatullah, memiliki beberapa pakaian batik, dari motif daun-daunan dan yang sekarang ini dimiliki adalah motif tugu air yang sangat cantik menambah kewibawaan pemakainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *