G
N
I
D
A
O
L

PEMBINAAN MITRA JUANG: Bekerja dan Berdakwah Dalam Sistematika Nuzulnya Wahyu

 

Islam tak pernah memilah-milah bekerja untuk dunia dan berdakwah untuk akhirat, tetapi keduanya adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa berpisah satu sama lain. Dalam studi psikologi modern, bekerja yang baik bila profesionalitas dan spiritualitasnya berjalan seimbang, hal ini dapat meningkatkan produktivitas, lantas bagaimana kaitannya dengan sistematika wahyu

 

Ada karakteristik tertentu dalam sistematika wahyu, Al Alaq adalah landasan tauhid dalam kehidupan seseorang, Al Qalam adalah sifat Qurani seseorang yang harus ada dalam diri seorang muslim, Al Muzzamil adalah landasan ruhiyah seseorang yang membuat dirinya tetap kuat mengadapi kesulitan. Al Muddatsir diarahkan untuk landasan sosial kemasyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial mereka, dan Al Farihah adalah gerakan konsolidatif dalam persatuan umat Islam.

Sekarang saya akan bertanya para pembaca, apa tujuan kalian bekerja? Hanya sekedar mencari uangkah, untuk memberi nafkah anak dan istri atau untuk mengisi hidup? Ingat, orang kafir juga bekerja, orang musyrik juga bekerja, apa yang membedakan pekerjaan kita dengan mereka? Motivasi tertinggi dalam bekerja itulah yang akan menentukan apakah pekerjaan itu bernilai di mata Allah atau tidak? Bahkan inilah yang membedakan manusia dan makhluk lain, karena manusia memiliki akal, landasan berpikir utuk merumuskan niat dan tujuan yang benar dalam bekerja.

Bekerja, tentu saja niat utamanya untuk memenuhi perintah Allah, di dalam Islam tidak dibedakan antara bekerja dan beribadah, bekerja adalah bagian dari perintah Allah, maka jika tujuannya untuk beribadah, harus dilandasi niat dan tujuan tertinggi, selain untuk melaksanakan perintah Allah, memberi nafkah untuk keluarga juga bagian dari ibadah, tapi jangan sampai niatnya hanya untuk mencari uang atau mengisi waktu karena tidak ada nilainya, dan ketika tidak ada nilainya tidak ada landasan tauhid dalam penilaiannya, khususnya Surat Al Alaq, dimana Allah memerintahkan kita untuk mengenal-Nya lewat ilmu, lewat membaca, apapun yang kita baca baik dari ayat qauliyah ayau kauniyah, semua adalah bagian dari tandanya.

Setelah seseorang melandasi niat dan tujuannya dalam bekerja untuk mendapatkan nilai di hadapan Allah, maka dalam bekerja harus dengan landasan etika islam lainnya, sebagaimana Rasulullah, akhlak terbaiknya adalah Al Qur’an, Beliaulah Al Qur’an yang berjalan kata Aisyah. Landasan ini yang tidak ada di masa pra islam, dimana para pedagang seringkali curang dalam hal timbangan, bekerja dengan landasan etika Islam untuk mencapai derajat Ihsan, “seolah-olah Engkau melihat Allah, atau Allah melihatmu” Apapun profesi kita, hadirkan pengawasan Allah dalam setiap ucapan dan Tindakan kita, untuk menumbuhkan karakter sifat-sifat akhlakul karimah dalam diri kita.

Jika dalam bekerja seseorang sudah memiliki niat dan tujuan yang benar, kemudian merasa diawasi Allah sehingga dalam bekerja tidak akan mungkin menyeleweng atau jauh dari amanah Allah, maka Langkah ketiga, seorang mukmin perlu memperkuatnya dengan landasan-landasan ruhiyah, yang dalam Surat Al Muzammil adalah shalat tahajjud untuk mendapatkan derajat yang mahmudah—tempat yang terpuji. Bagi seorang kader, guru, pemimpin organisasi atau berbagai macam profesi, tahajjud bukan shalat sunnah lagi melainkan wajib. KH Abdurahman Muhammad berkata, “Seseorang yang tidak tahajjud akan cacat spritualnya, hari-harinya akan kosong, Ia tidak memiliki perlindungan selain perlindungan Allah, kewibawaannya akan runtuh dan tidak memiliki kepercayaan diri yang utuh, bahkan sepanjang harinya akan diliputi rasa bersalah, hingga berbagai perasaan karena tidak tahajjud menjadi kurang dekat dengan Allah

Setelah landasan spiritualnya kuat, mulailah seorang kader / dai ini menanggalkan selimutnya, dan bertebaran di muka bumi untuk memberi manfaat pada orang lain, inilah aksi sosial serorang dai, di tengah gempuran kristenisasi, dakwah yang paling tepat adalah jihad harta, menyisihkan sebagian kecil dari penghasilan kita untuk berjihad dan berinfaq seperti yang dilakukan oleh para sahabat, mereka berdagang, tetapi sebagian hasil dagangnya juga ditujukan untuk kepentingan umat Islam untuk mencapai keseimbangan dunia akhirat. Sebab bagi seorang musli, bekerja di dunia itu wajib, tapi mereka masih punya akhirat yang harus disisihkan, sebab akhirat ini lebih lama dan kekal, yang ladangnya berada di dunia.

Dan, pada akhirnya aksi sosial / dakwah bil hal ini dapat tercapai jika seseorang membentuk jama’ah. Ali Kharamallahu wajhah berkata, “Kejahatan yang terogranisir akan mengalahkan kebaikan yag tidak terorganisir. Hari ini kita melihat musuh sangat kuat, bahkan mereka memecah umat Islam yang notabene memiliki ajaran yang benar namun karrna tidak bersatu menjadi kalah. Ingatlah pada masa Perang Tabuk pada 632 M beberapa bulan sebelum Rasulullah wafat, kekuatan Islam lebih dari 30.000 prajurit dalam satu kesatuan di Tabuk menggentarkan pasukan Romawi Timur yang dipimpin oleh Flavius Heraklius, denan kekuatan yang sebesar itu membuat Pasukan Romawi mengurungkan niatnya untuk menumpas umat Islam di Madinah, disamping mereka mendengar berita kekuatan Islam yang sedemikian kuat dalam beberapa kali peperangan terakhir, mereka tahu umat Islam dalam keadaan bersatu dan dalam lindungan Allah, inilah yang membuat mereka kuat. Hal ini selaras dengan surat kelima dari sistematika nuzulnya wahyu, Surat Al Fatihah ayat 1-7 sebenarnya bertujuan untuk mengajak umat manusia bersatu dalam system Islam, dengan menjadi Al Qur’an dan sunnah sebagai landasannya  menjadi Masyarakat tammadun seperti Madinah di zaman Rasulullah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *