Di tengah himpitan gadget, di tengah hiruk pikuk luberan informasi yang tak bermakna dari yang aneh dan tak masuk akal hingga yang benar-benar mengandung pengetahuan, bagaimana anak-anak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak jika mereka tidak membaca buku?
Buku nampaknya hanya sekumpulan kertas saja, tetapi jika manusia tidak menyalin pengetahuan itu, kemudian Guttenberg tidak menemukan mesin cetak, pengetahuan mustahil diakses oleh umat manusia secara mudah dan murah, tapi sesungguhnya, apa manfaatnya yang lain?
Ada dua orang anak, sebut saja Fikri dan Bahli yang bertamu ke rumah temannya, Umar. Sesampai di rumah Umar yang megah, pagarnya tertutup rapat, waktu itu hujan turun rintik-rintik, betapa inginnya mereka segera masuk, Bahli menyuruh Fikri untuk memencet tombol pintunya supaya penghuni rumah mendengar. Belum juga jari Fikri menyentuh tombol, bel sudah berbunyi duluan, waktu itu hujan yang rintik-rintik berubah makin bertambah deras.
“Jangan-jangan rumah ini ada hantunya!” simpul Bahli
“Kenapa bisa begitu?” tanya Fikri
“Lihat saja, bel belum dipencet sudah bunyi” jawab Bahli
“Belum tentu juga, siapa tahu kortsluiting Listrik” Fikri yang tidak mudah percaya mengamati tombol itu, ada tetesan air yang masuk ke dalam bel, tetapi penyebab pastinya akan Ia tanyakan pada Umar atau orang yang ahli Listrik, siapa tahu benar. Walhasil, setelah mereka bertamu ke rumah Umar tiba-tiba Fikri teringat bel yang bisa menyala sendiri, langsung Ia tanyakan, sedang Fikri percaya, pasti ada hal-hal yang bisa dikompromikan dengan akal sehatnya, “Memang beberapa hari ini belnya konslet, fik, jadi kadang bunyi sendiri, apalagi kalua hujan, tetesan air masuk ke dalam kotak belnya” kata Fikri, dan Bahli juga mendengar keterangan pasti dari Umar, “Tuhkan, benar, apa kubilang” pungkas Fikri
Fikri dan Bahli memang dua anak yang berbeda karakter, Fikri suka menghabiskan jam istirahatnya di perpustakaan, kebetulan Ia lebih sering tidak bawa uang saku, sedangkan Bahli lebih sering kumpul sama teman-temannya, mengobrol ngalor ngidul, dan membicarakan apa saja dari hal yang kurang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Sedangkan Fikri, dari hasil kebiasaannya membaca buku cerita, khususnya Detektif Sherlock Holmes, Ia membaca seri Anjing Raksasa Baskerville yang ternyata hanya rekayasa sekelompok orang jahat untuk mencuri di rumah orang kaya, ada pula seorang pencuri batu permata yang omongannya terus berubah saat ditanya Sherlock Holmes, padahal Ia menyembunyikan batu itu di dalam leher angsa, semua bacaan itu begitu menarik bagi Fikri dan perlahan-lahan membentuk cara berpikirnya.
Dahulu, ilmu pengetahuan begitu eksklusif, jika bukan para pendeta, bangsawan dan terpelajar tidak ada yang bisa mengaksesnya, karena tidak semua orang bisa membaca, tetapi Guttenberg telah mengubah semua itu dengan ditemukannya mesin cetak, ilmu pengetahuan tidak hanya disalin menjadi kata-kata, tetapi juga digandakan, diperbanyak, seiring dengan semakin banyaknya yang melek huruf, sekolah memfasilitasinya, menggantikan pengetahuan yang beredar saat itu, mitos dan takhayul, lantas hari ini kita menyebutnya buku!
Tak hanya Kumpulan pengetahuan, tetapi juga akan mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Bayangkan sebuah kitab Wealth of Nations, si empunya Kapitalisme itu, Ia telah mengubah cara berpikir masyarakatnya waktu itu, kekayaan yang menurut definisi sebelumnya adalah banyaknya logam emas dan perak yang bertumpuk di rumah-rumah pejabat dan bangsawan, dengan peluncuran buku itu / pemikiran itu menjadi, kekayaan adalah apa yang diperoleh dari kerja keras rakyatnya, seberapa banyak mereka memiliki alat-alat produksi, menghasilkan barang dan jasa, yang menggerakkan negara-negara Eropa, setelah berbagai penemuan yang menakjubkan itu memproduksi barang secara massal dan dimiliki oleh setiap orang sehingga hasilnya dapat dibagi untuk kepentingan negara.
Buku juga membuat kita penasaran, kritis, mempertanyakan semua hal yang tidak berkesesuaian dengan akal sehat kita, karena pengetahuan vis a vis keadilan, kebenaran dimana akal adalah rajanya. Buku membuat kita paham, takkan mudah percaya dengan perkataan orang, mitos yang berkembang, opini publik yang belum tentu berdasarkan kebenaran, sebab yang benar memang hanya sedikit, dan parahnya memang kebanyakan orang tidak membaca, termasuk anak-anak kita yang hari ini kita sekolahkan, kita dekatkan dengan lembaga pengetahuan, adakah dia membaca?
Membaca bukan sekedar mampu mengeja huruf, kata dan kalimat, tetapi PISA (Program for International Student Assesment) mendefinisikan membaca adalah memahami, menggunakan, merenungkan dan berinteraksi dengan tulisan. Turunannya terurai dalam level yang berbeda seperti di bawah level 2 berarti hanya memahami kalimat-kalimat pendek, level 3 memahami teks agak panjang dan menyimpulkan secara sederhana sedangkan level 4 ke atas memahami tulisan panjang, dengan bahasa agak rumit, membandingkan dengan sumber lain dan menilainya secara kritis
Hasilnya, 74,5 persen masyarakat Indonesia masih berada di bawah level 2, hanya bisa membaca kalimat pendek, namun belum memahami pesannya atau apa yang bisa disimpulkan. Bahkan Indonesia berada di urutan ke-73 dari 80 negara yang ikut disurvei oleh PISA, artinya apa, budaya tutur kita masih mendominasi, orang lebih percaya dengan perkataan orang yang penuh dengan tipuan atau motif tertentu daripada pengetahuan dari bacaan. Jika hari ini anak-anak kita mengalami brain root, pikiran mereka dikendalikan oleh algoritma media sosial, maka wajar saja sebab scrolling lebih mereka nikmati daripada berpayah-payah membaca buku.
Memang, cara kerja otak kita berubah antara membaca buku dan scrolling medsos, pada saat seseorang scrolling media sosial, otak kita hanya memproses gambar dan warna yang berubah terus menerus, otak kita dirangsang untuk mendapatkan sensasi hadiah, ingin geser terus menerima informasi baru tanpa ingatan yang mendalam, ingatan jangka panjang juga kurang aktif. Namun pada saat membaca, otak depan kita menerjemahkan huruf menjadi kata, kata menjadi makna, Ia juga menghubungkan dengan pengetahuan yang kita miliki, ada pula bagian otak yang melatih kita untuk fokus dan memahami isi keseluruhan, seperti alur cerita, tetapi yang paling aktif adalah bagian otak yang dilatih untuk berpikir, merenungkan, merefleksikan, menyimpulkan, dalam bahasa PISA berada di level 5, memahami tulisan yang panjang dan rumit, membandingkan dengan sumber lain dan lain sebagainya
Karena itu di hari anak nasional ini merupakan momentum yang tepat untuk mengajak anak-anak kita kembali ke akar budaya literasi yang shahih lewat buku bacaan, atau berkunjung ke perpustakaan, tidak hanya sekedar agar literasi terbangun, tetapi melatih anak-anak kita mengubah cara pandang berpikir (tradisional) budaya tutur, mempercayai omongan orang, menggantinya dengan budaya akademis ilmiah, tidak mempercayai semua hal (pengetahuan) sebelum mereka mengujinya dalam nalar dan kesadaran dan apa yang telah mereka baca. Serta membangun sikap kritis ilmiah sebellum menemukan kebenaran dari pengalaman bacaan atau referensi ilmiah lainnya. Jika anak tak diajarkan membaca buku, maka Ia akan diasuh media sosial dengan framing jahat dan tujuan-tujuan lai yang tidak setulus saat kita membaca buku, yakni benar-benar ingin mencari kebenaran
