MPLS sudah selesai, belajar yang sesungguhnya baru dimulai, para siswa telah saling mengenal, mereka juga telah berinteraksi terhadap lingkungan. Bagi siswa baru mereka akan merasakan pengalaman-pengalaman baru, tapi bagaimana dengan siswa lama, terkadang rasa jenuh mulai melanda, mereka akan menghadapi hari-hari berat yang menjemukan, belum lagi mapel tertentu yang dianggap momok, tapi tenang, ada cara-caranya kok agar pembelajaran tetap menarik

Ibaratnya sebuah pesta, MPLS mengajarkan pada kita kesenangan, kehangatan dan keakraban, tetapi ketika pesta sudah selesai, semua orang kembali pada kegiatannya masing, kembali pada rutinitas hariannya, apapun itu. Demikian pula dengan pembelajaran di sekolah, MPLS hanyalah pemanasan sebelum masuk ke pembelajaran yang sebenarnya, namun mengapa ketika MPLS nampak menarik, tetapi ketika pembelajaran biasa jadi tidak menarik?
Seminggu kemarin, Si Umar yang baru saja kelas 7 SMP seringkali bercerita pada ibunya asyiknya bersekolah di hari-hari awal Ia masuk merasa senang, terhadap segala hal yang berkaitan dengan sekolah, baik itu pelajarannya, guru-gurunya maupun lingkungannya, tetapi hari ini semua berbalik total, tidak ada pembelajaran yang menyenangkan lagi, guru hanya ceramah, alat peraga tidak digunakan, tidak ada yel-yel dan lain sebagainya
Setelah pulang sekolah, ibu bertanya pada Umar lagi, Umar yang biasanya mendahului ceritanya, tiba-tiba bertanya dulu, “Bagaimana sekolahnya hari ini, dik, senang tidak?” Umar hanya menggelengkan kepala, hanya menghela nafas panjang, “Biasa aja, umi” lantas Umar masuk kamar dan mengingat betapa melelahkannya sekolah tadi. Lantas bagaimana agar pembelajaran setelah MPLS ini tetap berlangsung menarik?
Yang pertama suasana harus dibangun, suasana seperti di MPLS harus tetap terkondisikan, baik itu kebersamaannya, kehangatan dan keakrabannya. Sebelum pembelajaran, guru bisa menyapa terlebih dulu dilanjutkan dengan ice breaking seperti yang pernah diajarkan saat MPLS
Yang kedua adalah menyelingi dengan permainan, setelah 5-10 menit pembelajaran dimulai bisa diselingi dengan komunikasi dua arah atau permainan apapun yang bisa kita cari dari internet apa permainan yang tepat untuk peserta didik kita (disesuaikan dengan umur dan psikologis anak)
Yang ketiga adalah pembelajaran dengan pengalaman langsung bisa lebih ‘mengena’ daripada hanya sekedar berceramah atau menulis di kelas. Dalam hal ini kita bisa mengilustrasikannya sebagai berikut, Pelajaran IPA Sekolah Dasar, dalam materi morfologi tumbuhan, anak-anak bisa kita ajak untuk ke lingkungan di sekitar sekolah mengamati bentuk-bentuk daun ada yang seperti jari, ada yang menyirip, ada yang tebal dan lain sebagainya
Yang keempat adalah memaksimalkan alat peraga, seiring dengan fasilitas sekolah yang makin lengkap, dengan alat peraga pemutaran video dari berbagai perangkat elektronik seperti radio dan televisi juga terlihat menyenangkan, karena mengaktifkan kelima panca Indera peserta didik
Yang kelima, jangan lupakan muatan nilai-nilai islam dalam setiap pembelajaran, sebab ilmu itu hakikatnya dari Allah, maka pelajaran apapun dapat dikaitkan dengan sains islam. Kita tentu paham bagaimana para ilmuwan islam kita tidak memilah antara sains dan agama, keduanya menjadi satu. Semua ilmu yang ada di dunia bisa disisipi dengan hidden kurikulum ketauhidan seperti yang ada dalam kurikulum Hidayatullah itu sendiri. Salah satu metodenya adalah pengajaran Aristotelian tentang causa prima, penyebab awal, sebagai contoh kitta mengatakan, “Meja kursi darimana? Dari kayu, kayu darimana? Dari pohon. Pohon darimana? Dari tanah, tanah darimana? Diciptakan oleh Allah. Allah darimana? Allah tidak diciptakan, Allah bersifat azali dan qidam, jadi Allah adalah penyebab segala sesuatu. Dengan pembelajaran itu, kita bisa mengenal Allah dan mengenal Allah adalah bagian dari fitrah manusia yang paling suci dari manusia, dengan pembelajaran di sekolah seorang guru bisa mengaktifkan fitrah untuk mengenal Allah itu lebih menyala lagi
