G
N
I
D
A
O
L

Melibatkan Perpustakaan Dalam Pembelajaran di Sekolah

 

 

Sekalipun bangunannya megah, perpustakaan menjadi tempat tersepi daripada fasilitas sekolah lain. Sungguh ironi, kita sering menyebut perpustakaan sebagai jantungnya sekolah, tetapi jangankan muridnya yang betah membaca di dalamnya, gurunya saja jarang, ini sungguh ironi

 

                Barangkali apakah perpustakaan tidak menarik, baik dari kebersihan maupun tata letaknya? Perpustakaan yang menjadi jantung sekolah seharusnya menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh para pelajar yang haus membaca, minimal dalam pengayaan dari materi yang disampaikan. Di sekolah-sekolah swasta islam, saya kira perpustakaan tidak seburuk yang kita bayangkan, tempatnya bersih dan memiliki fasilitas buku bacaan yang lengkap. Sayangnya petugas perpustakaan tidak bisa bertugas dengan maksimal karena kesibukan mereka mengajar, juga bukan tenaga ahli yang membidanginya (missal dari lulusan sarjana kearsipan) dan lain sebagainya. Apalagi di tengah makin dipangkasnya anggaran perpustakaan, maka lengkap sudah penderitaannya.

Kita sering menemukan perpustakaan sebagai gudang buku-buku pelajaran, buku-buku sisa pelajaran yang tidak terpakai dipenuhi dengan buku-buku pelajaran yang hanya akan memenuhi rak-rak perpustakaan yang seharusnya diisi oleh buku-buku pengayaan, apapun itu dari fiksi hingga non fiksi, dari cerita bergambar, hingga buku-buku tebal tentang sejarah, politik hingga novel. Jika Ia sebuah perpustakaan sekolah, banyak juga buku ilmiah popular yang bisa diadakan, sehingga di akhir pelajaran seorang guru bisa menutup pelajarannya dengan ‘hasutan’ “Untuk lebih memperdalamnya, silakan mencari sumbernya dari ensiklopedi yang ada di perpustakaan”

Belajar mencari sumber sendiri, memperdalamnya lewat buku pengayaan yang luas  membuat siswa merasakan pengalaman belajar yang baru. Seorang guru yang tentunya juga seorang pembaca buku di perpustakaan tentu paham buku apa yang harus dibaca oleh anak-anaknya, sehingga mampu mengarahkan dan membimbing buku apa saja yang harus dibaca. Dan membiarkan anak mengeksplorasi sendiri bacaannya, supaya anak bisa menemukan sendiri dari hasil bacaannya.

Tetapi anak usia SD perlu bimbingan, pengarahan terhadap apa yang mereka baca untuk tidak diarahkan pada kekerasan, pornografi hingga LGBTQ sebab anak-anak adalah usia yang rentan untuk disusupi agenda-agenda global yang ingin menghancurkan suatu negara dengan menghancurkan generasi mudanya. Seorang guru juga perlu membimbing, hikmah atau amanah apa yang bisa diambil dari buku bacaan untuk menanamkan karakter atau nilai-nilai dalam diri seorang anak. Anak tidak pernah dibatasi untuk membaca buku tertentu, tetapi Ia diarahkan untuk membaca buku sesuai umurnya, mereka tidak dilarang untuk membaca buku yang akan menuntaskan rasa penasaran dan menambah pengalaman baru, tetapi orangtua dan guru juga berhak memilihkan buku bacaan yang baik baginya.

Banyak program yang bisa dibangun oleh perpustakaan untuk membiasakan membaca di kalangan murid, misalnya saja memancing mereka dengan insentif, pembelajaran berkelompok di perpus dengan mencari sumber-sumber yang ada di perpus, merancang berbagai lomba yang ada kaitannya dengan literasi, apakah itu meresensi buku, story telling hingga memanfaatkan momen-momen penting hari literasi, hari buku, hari pendidikan nasional dan lain sebagainya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *