G
N
I
D
A
O
L

Finanda Jumena Asmara Lintang, Alumni Sekolah Integral dari TK Hingga SMP, Bangga Bisa Jadi Dokter

 

Sekolah ini sudah berdiri sejak 2005, sudah meluluskan ratusan siswa, dari jenjang pendidikan KB, TK, SD dan SMP dengan ceritanya dan jalan hidupnya masing-masing, salah satunya adalah Finanda Jumena Asmara Lintang yang akrab dipanggil Nanda, bagaimana lika-liku hidupnya hingga bisa menjadi dokter dan bagaimana sekolah ini mempengaruhinya?

 

Mengapa guru disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, karena dari gurulah mereka mencetak murid-murid yang kelak jadi apapun yang diinginkan, dokter, pilot, polisi, tentara, bahkan presiden, sementara guru tetaplah seorang guru, tak pernah berubah, kebanggaannya bukan pada materi yang didapatkanya, tetapi dari output yang dihasilkannya, menjadikan murid-muridnya sukses, setidak-tidaknya itu yang membuat seorang guru meneteskan air mata haru.

Dan, seorang murid yang baik bukan yang paling tinggi pencapaiannya, prestasinya, pekerjaannya, tetapi yang paling ingat pada jasa guru-gurunya, juga almamater sekolahnya, yang telah mencetak gurunya. Seitdak-tidaknya itu yang dirasakan Nanda, atau Finanda Jumena Asmara Lintang, alumnus TK, SD dan SMP Integral, walaupun di SMP-nya tidak sepenuhnya menempuh pendidikannya di SMP Integral Luqman al Hakim Purwodadi (2 tahun dihabiskannya di SMP Boarding School Ar Arrohmah Malang) tetaplah cintanya ditambatkan pada sekolah Integral yang ada di Purwodadi ini. Karena sebagian waktunya dihabiskan di sekolah ini

Ingatannya masih kuat dan belum sepenuhnya luntur, terhadap sekolahnya maupun guru-gurunya, Ia masih menjalin komunikasi dengan guru TK-nya, Ibu Sriyati, kepadanyalah cerita ini bermula, tentang lika-liku hidup hingga kesuksesannya. Yang paling diingatnya adalah sekolah ini setiap pagi selalu disetel murottal Al Qur’an dari pengeras suara, sejak dari TK hingga SD, hal ini yang membuat suasana sekolah jadi adem dan hatinya merasa tenang. Ia juga masih ingat ustadzah-ustadzahnya di TK yang rutin membacakan cerita, itu membentuk karakter, mengukir jiwa raganya, dengan cerita itu, agama disampaikan dengan mudah dan tanpa tekanan, nilai-nilai bisa lebih terserap melalui cerita.

Membentuk Karakter

Namun sebagaimana kita tahu, sekolah ini juga kuat dalam memegang nilai-nilai islam, ngajinya, hafalan suratnya, ya meskipun sederhana, tak semua orang beruntung dapat diajarkan ayat-ayat Al Qur’an. Maka, Ia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada para ustadz dan ustadzah, menjadi bagian dari keluarga ini (Sekolah Integral) karena banyak yang bisa dipetik, justeru ketika Ia meninggalkan sekolah ini, tidak pada saat Ia masih sekolah dulu. Ibarat ikan di dalam akuarium tidak merasa dirinya berada di dalam air, tidak butuh air, barulah ketika ikan itu keluar dari akuarium merasa perlu air.

Begitu pula dengan Nanda, Ia sekolah seperti biasa, bermain, mengaji dengan teman-teman, tidak sadar semua pembiasaan yang dilakukan di integral di sekolah integral membekas sampai sekarang. Ia rindu suasana yang adem, bisa ngaji bersama, dan yang lebih penting adalah perkataan ustadz-ustadzah, kamu boleh jadi apa saja asalkan tetap tidak meninggalkan shalat, tidak lupa mengaji, sehingga ketika jadi dokter (sekarang ini) Ia menjadi dokter yang beriman, dokter yang tidak pernah meninggalkan shalat dan dokter yang tidak lupa mengaji.

Wanita yang Mandiri

Dari TK Ya Bunayya Ia masuk ke SD Inetgral, dari SD Integral sempat 2 tahun Ia masuk ke Ar Rahmah Malang, itu adalah saat-saat tersulitnya, karena disana adalah sekolah boarding school, tak hanya ilmu pengetahuan agamanya atau hafalannya yang diasah, tetapi kemandiriannya sebagai seorang remaja putri yang bergaul dengan teman-temannya satu asrama. Tetapi atas kehendak Allah Ia harus kembali ke Purwodadi lagi, melanjutkannya ke SMP Integral Luqman al Hakim di kelas akhir, seakan-akan mengulang lagi kenangannya bersama teman-temannya seangkatan dan juga ustadz dan ustazahnya yang sangat dihafal. Dengan perjalanan seperti itu, pondasinya untuk bersekolah di integral bisa dikatakan paripurna, artinya, Ia telah memiliki pondasi yang kuat ke jenjang yang selanjutnya, maka tidak heran setelah menempuh kuliah kedokteran di Universitas Islam Sultan Agung hingga lulus mengabdi sebagai seorang dokter, tidak ditinggalkannya jatidirinya sebagai lulusan integral yang santun, bersahaja dan juga seorang Muslimah yang utuh, pembawaannya masih sama, kalem dan murah senyum. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *