G
N
I
D
A
O
L

Mengenali Anak-Anak yang Berpotensi Mengalami Perundungan

 

Tahun ajaran baru telah berlangsung sekitar 1 bulan, apakah bapak / ibu Guru sudah mengenali peserta didik secara lebih mendalam, anak-anak yang cenderung minder atau superior, apakah diantara mereka ada yang memiliki masalah dalam keluarganya, ini akan berpengaruh dalam kehidupan sosialnya di sekolah, mereka yang tidak diterima dalam kelompok sosialnya cenderung mengalami perundungan, bagaimana mengenali anak-anak yang berpotensi untuk mengalami perundungan?

 

Protagoras, seorang Kaum Sofis pada abad ke-5 SM mengatakan, hak yang melekat dalam diri seseorang adalah keadilan dan penghormatan pada orang lain, prinsip kemanusiaan inilah paling cocok diterapkan dalam kehidupan sosial, terkhusus sekolah, dalam kehidupan bersama, rasa keadilan dan penghormatan itu harus dibangun. Namun semua itu tak semudah membalik telapak tangan.

Anak-anak memiliki dunianya sendiri, ada kehidupan pahit di baliknya yang dibawa ke sekolah, anak-anak yang memiliki masalah sosial di rumah (perceraian orangtuanya dan luka batin lainnya) cenderung berbuat kasar di sekolah, tetapi mereka tidak tahu kalau perbuatannya berbahaya. Dalam fitrahnya, tidak ada anak-anak yang lahir untuk menyakiti orang lain, fitrah anak-anak adalah suci dan berpihak pada kebenaran, faktor lingkungan dan kejiwaan-lah yang membuat anak-anak berbeda. Anak-anak yang cenderung disakiti oleh orangtuanya akan menyakiti temannya, inilah yang disebut siklus kekerasan, teori yang diciptakan oleh Albert Bandura dalam teori pembelajaran sosial, dimana anak meniru kekerasan setelah Ia melihatnya dari orang lain dan lingkungan terdekatnya.

Dalam eksperiman boneka, Albert Bandura mengelompokkan anak-anak menjadi 3, yakni anak-anak yang melihat orang dewasa memukuli boneka, kelompok kedua anak-anak yang memperlakukan boneka itu dengan baik dengan mengelusnya dan membelainya, dan kelompok ketiga anak-anak yang dibiarkan saja, setelah itu 3 kelompok ini ditinggal oleh orang dewasa ini, dan hasilnya, kelompok pertama yang memukuli boneka, cenderung berperilaku yang sama memukuli boneka juga, inilah yang dinamakan imitasi atau meniru.  Sedangkan Sigmund Freud, si psikoanalis asal Wina, Austria, memperkenalkan teori pelampiasan kekerasan, atau memindahkan kekerasan yang dialami atau dilihatnya pada orang lain.

Di sisi lain, kita melihat anak-anak yang berpotensi untuk mendapatkan pelampiasan kekerasan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan orang kebanyakan, gemuk sendiri, kurus sendiri, jelek sendiri, berkacamata, wajah yang aneh hingga cara berjalan yang berbeda. Begitu pula faktor geografis, ekonomi, agama juga bisa berpotensi untuk menjadi objek pelampiasan kekerasan. Dengan perbedaan ini, anak-anak menjadi minder, kecil hati, bahkan cenderung pemalu atau pendiam. Karena kurang percaya diri, mereka jadi tidak punya teman atau dikucilkan, emosionalnya jadi sensitif atau sebaliknya mereka terlalu baik sehingga kebaikannya dimanfaatkan. Di sisi lainnya lagi kita juga melihat anak-anak yang berpotensi untuk dirundung sebetulnya punya potensi / kelebihan yang tidak dimiliki teman lain, sehingga membuat iri hati.

Maka, tugas kita sebagai guru, sudahkah kita mengenali anak-anak kita dengan baik, termasuk segala permasalahannya, apakah kita melihat anak-anak kita berbeda dari temannya yang lain sehingga cenderung dirundung? Dengan berbagai perbedaan yang ada, dan mengenali lebih dalam anak-anak kita sendiri, maka seorang guru bisa memberi pencegahan, memberi rasa aman dari potensi perundungan siswa lain. Kehadiran guru / wali kelas membersamai pada saat jam mengajar saja, tetapi pada waktu-waktu krusial, saat istirahat, saat anak-anak bermain, justru pada saat itulah—dikala pengawasan guru tidak ada, perundungan terjadi, terutama pada anak-anak yang berbeda, lemah dan bermasalah di lingkungannya. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *