
Di sela-sela peresmian Laboratorium Bahasa Jepang di SMK Hidayatullah Luqman al Hakim Kudus, Farhan Siswanto, M.Pd, Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah juga menggelar talkshow yang diikuti oleh seluruh civitas akademika dan siswa dalam berbagai jenjang. Ia melontarkan gagasan tentang global ready dan global mobility, meskipun konteksnya siswa SMK, bagaimana dengan sekolah kita yang notabene masih berjenjang SD dan SMP?
Talkshow dengan tema Transformasi SMK Menuju Global Ready dan Global Mobility itu patut kita cermati, terutama insan-insan pendidikan, terutama sekolah Hidayatullah di Purwodadi untuk menerapkan di sekolah kita. Tentu kita bertanya-tanya, apakah hal itu bisa? Sementara Farhan Siswanto membicarakannya dalam konteks siswa SMK yang notabene lebih siap daripada siswa SD maupun SMP
Global ready adalah kesiapan atau kemampuan sekolah atau Lembaga untuk berperan di dunia internasional (global) tanpa perlu berpindah tempat. Seiring dengan wawasan globalisasi, tidak ada sekat jarak atau batas wilayah, semua orang menjadi warga dunia tanpa terkecuali melalui teknologi yang telah kita capai. Lembaga atau guru harus menyiapkannya pada peserta didik, membekalinya dengan wawasan luas tentang bahasa asing, budaya bangsa lain hingga wawasan geopolitik yang menjadi perhatian dan isu dunia internasional. Dalam konteks SMK yang saat ini sudah banyak dibentuk adalah kerjasama dengan negara lain dalam bentuk komunikasi atau bekerja dari tempat sendiri dan tidak perlu berada di luar negeri. Dengan konsep global ready, setidaknya seorang guru mampu membandingkan kurikulumnya dengan kurikulium negara lain, bagi siswa dapat bekerjasama dengan siswa dari negara lain dalam proyek offline atau daring
Adapun global moblity adalah kebebasan untuk bergerak / berpindah untuk belajar atau bekerja ke berbagai negara, yakni dengan memberikan dukungan, kemudahan izin, pengakuan ijazah hingga jaminan keamanan di luar negeri. Bagi siswa SMK, dapat mewujudkan mimpi berkuliah di luar negeri, tak hanya di Oxford atau Cambridge tetapi juga Al Azhar Kairo hingga Yordania, Yaman hingga Arab Saudi, begitu juga dengan guru-gurunya dapat melanjutkan sekolah ke luar negeri untuk meningkatkan kompetensinya
Bagaimana dengan SD dan SMP kita? Tak perlu berkecil hati, sebab kita tak perlu persis menirunya, Sekolah Dasar adalah pondasi untuk memupuk mimpi itu, seorang guru bisa memberikan motivasi, tujuan jangka Panjang bila mereka menguasai bahasa pergaulan internasional. Sebelum mereka setlah dewasa menjadi bagian dari warga negara global setidak-tidaknya mampu memupuk kecintaan mereka pada bahasa pergaulan internasional (bahasa Inggris) sekolah-sekolah maju di Jakarta sudah terbiasa untuk travelling ke Turki, dan menguatkan kemampuan berbahasa mereka di tempat yang banyak didatangi oleh turis-turis penutur bahasa yang termasuk dalam kebudayaan Latin. Bagi siswa SMP, sekolah dapat bekerjasama dengan sekolah di negara lain kemudian menggelar diskusi via zoom membahas isu-isu global tentang rusaknya paru-paru dunia, isu rasisme dalam sepakbola atau isu-isu menarik lainnya. Seorang siswa SMP sudah mampu diarahkan untuk memahami wawaan atau budaya negara lain sehingga sewaktu dibahas di forum merasakan kedekatan budayanya mampu dipahami bangsa lain
Contoh global mobility bagi siswa SD juga banyak contohnya, kesempatan untuk bertemu dengan siswa dari luar negeri secara daring dapat dilakukan dalam berbagai bidang, perlombaan seni dan budaya dari siswa berpretasi atau kompetisi olahraga (kalau ini offline) dapat dilakukan untuk lebih memahami karakter dan budaya bangsa lain. Dari sana siswa tidak hanya sekedar berkompetisi, tetapi juga bisa saling mengenal keragaman budaya, bahasa dan karakter bangsa lain. Bagi siswa SMP bisa dengan melakukan ajang pertukaran pelajar selama beberapa minggu atau beberapa bulan sebagai study banding dan lain sebagainya. Dengan contoh-contoh di atas, global ready dan global mobility tidak harus menunggu sampai siswa tersebut menginjak SMK/ SMU tetapi semua bisa dimulai lebih dini
