G
N
I
D
A
O
L

Menulis Surat, Menghidupkan Literasi, Membangkitkan Lagi Gairah Mengarang

 

Rachel, siswa kelas 5 SDIT Luqman al Hakim Kudus tak pernah menyangka suratnya yang dibaca oleh Abdul Mu’ti, M.Ed tak hanya dibaca, tetapi juga diganjar hadiah oleh Pak Menteri sebuah laptop seharga lima juta rupiah saat Beliau meresmikan Laboratorium Bahasa di SMK Luqman al Hakim Kudus. Disini kita tidak memandang hadiah itu, tetapi proses si anak hingga bisa menulis surat, tentu bukan perjuangan yang mudah, dan yang tak kalah penting adalah bimbingan sang guru, bagaimana untuk mencapai semua itu?

 

Proses di balik layar sebelum Pak Menteri membaca suratnya Rachel, siswa kelas 5 SDIT Luqman al Hakim pastilah tidak mudah, tetapi kita tidak pernah tahu, hanya membayangkan. Saya bayangkan ustadzahnya memberitahu, “Anak-anak, Pak Menteri pendidikan akan datang, tulislah surat yang paling bagus untuk ustadzah ajukan pada Pak Menteri agar dibaca” lantas anak-anak berusaha mengarang surat sebagus-bagusnya, dengan kemampuan yang mereka miliki mereka tulis dalam sepucuk surat

Dalam kemampuan menulis surat anak-anak itu menuangkan ide atau gagasan, Menyusun satu demi satu kalimat dari apa yang ingin dibicarakan, seperti mengobrol, tetapi dituliskan, jika tidak terbiasa bukan tidak mungkin kertas itu akan terus kosong meskipun waktu sudah berjalan beberapa menit.

Untuk sampai pada tahap Ia bisa menulis, pastilah dari pengendapan-pengendapan dari apa yang dibacanya, buku fiksi atau non fiksi setiap hari sehingga Ia bisa berpikir runtut, memahami struktur kalimat yang baik, alinea demi alinea hingga tersusunlah sepucuk surat yang utuh. Menulis surat nampaknya sesuatu yang biasa, jika sering dilakukan, tetapi kita bayangkan ini dilakukan oleh anak kelas lima SD, kata-katanya polos, sederhana dan jujur, cerminan dari isi hatinya, itulah yang membuat Pak Menteri trenyuh dan memberinya hadiah karena kejujurannya, dan mampu mengutarakan isi hatinya dengan kalimat yang tersusun rapi dan enak dibaca.

Menulis surat yang sederhana sekalipun tetaplah berasal dari proses yang rumit dalam belajar, membaca khususnya, fiksi maupun non fiksi yang akhirnya mampu mengendap dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Novel-novel fiksi yang sarat makna dan menyimpan pesan yang amat dalam berasal dari pengalaman pribadi pengarangnya, kenyataan yang dihadapi, bagaimana seorang tokoh berjuang dalam kesulitan hidupnya, diselingi dengan kenyataan hidup dan pengalaman sehari-hari. Surat yang ditulis Rachel memang tidak diperlihatkan langsung isinya apa, tetapi saya menduganya pastilah berasal dari isi hatinya, pengalaman kesulitan yang dihadapinya, untuk di-curhatkan pada Pak Menteri, karena Beliau memiliki otoritas untuk menyelesaikan masalah-masah pendidikan di Indonesia.

Dengan menulis surat, komunikasi dapat dilakukan secara elegan, teringatlah kita pada Kartini—apalagi Rachel juga wanita, yang menulis surat pada Abendanon, jika tidak cerdas dan berpendidikan mana mungkin bisa menulis surat. Teringatlah kita dengan zaman orangtua-orangtua kita dulu, berkomunikasi dengan kerabatnya yang jauh dengan surat, sebelum diganti telegram yang lebih singkat dan tak punya ikatan emosi.

Belajar menulis surat berarti belajar berbahasa yang baik dan terhormat pada pembacanya, seseorang bisa menuliskannya secara singkat, tentang pokok tujuan menulis surat, atau Ia menulis sesuatu yang panjang, menceritakan pengalaman hidupnya hingga penggambaran suatu kondisi agar si pembaca paham dan bisa mengetahui keadaannya. Ini juga memerlukan kemampuan imajinasi yang besar dan itu bisa dilakukan dengan banyak membaca juga, sekali lagi peranan untuk membaca sangat penting, karrna Kartini sendiri bisa mengungkapkan fikiran-fikiran feminismenya setelah Ia berlangganan atau abonemen dari Majalah Hollandsche Lellie dari Belanda. Menulis surat dewasa ini semakin sulit karena tidak ada sarananya, sudah jarang adanya media cetak, tempat para pembaca beropini (bagian menulis surat juga) atau jika dulu di majalah anak dan remaja ada kolom sahabat pena, tempat anak-anak saling bertukar cerita, perlu kemampuan menulis surat juga.

Namun semua berakhir ketika layar gadget menggantikannya, kemampuan menulis siswa jarang lagi diasah, karena menulis itu tidak praktis dan bertele-tele, otak kita tidak terbiasa lagi untuk diperas dalam menulis surat. Bahkan pelajaran mengarang sudah hilang dari kurikulum bahasa Indonesia padahal itu yang menyebabkan kemampuan menulis kita terasah, teringatlah saya di kelas 4 SD ada pelajaran menulis surat untuk guru saya, setelah menulis kami disuruh untuk mengirimkannya ke alamat guru saya. Menulis surat adalah bagian dari pelajaran mengarang dengan kaidah kepenulisan tertentu, namun semua bermuara pada hal yang sama, imajinasi dan kebiasaan membaca kita.

Meskipun AI (artificial intelligent) mengatakan, pelajaran mengarang tak sepenuhnya hilang, tetapi menjelma dalam bentuk teks eksposisi, teks narasi hingga argumentasi hingga soal-soal panjang dalam tes bahasa Indonesia dimana siswa diajak untuk memahami isi suatu pokok pikiran, tetap saja dasarnya adalah membaca, berimajinasi, yang semakin jarang seseorang membaca maka tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan isi pokok pikiran, apalagi mengarang atau dalam bentuk yang lebih singkat adalah menulis surat, maka jangan harap mereka mendapat hadiah seperti Rachel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *