G
N
I
D
A
O
L

KULTUM HALAQAH : Visi Seorang Muslim Menyempurnakan Hidup

 

Di tengah-tengah era disrupsi dan mudahnya seseorang dimasuki oleh nilai-nilai yang permissive, seorang muslim perlu menguatkan visinya lagi, pandangannya ke depan (akhirat), namun keberhasilannya di akhirat itu justeru ditentukan dari dunia, sebab akhirat tempat kita memetik hasil

 

Menurut Muhammad Nur Hadi atau yang biasa disapa Abu Hamzah, visi hidup seorang muslim dibagi menjadi 3, yaitu Visi Iqtishadiyah atau visi ekonomi, ekonomi layaknya darah tidak boleh lebih dan tidak boleh kekurangan, seperti tekanan darah, jika kelebihan akan mengakibatkan tekanan darah tinggi jika kekurangan akan menyebabkan darah rendah. Seseorang harus berdaya secara mandiri  dari sisi ekonomi, sebab kemiskinan dapat menyebabkan kekufuran, kita melihat misionaris sering menggunakan kelemahan ekonomi umat islam untuk memaksakan agamanya. Untuk itu umat Islam tidak boleh hidup sendiri, Ia harus berjejaring sosial dengan kerabat, kolega dan siapapun yang memiliki kelebihan untuk membentuk jaringan bersama sebagai mitra yang saling menguntungkan. Pemberdayaan zakat, infaq dan sedekah adalah salah satu pilar ekonomi Islam yang dahulu bisa diandalkan dengan potensinya yang besar, bahkan Ia berbeda dengan pajak yang menjadi sektor andalan ekonomi pemerintah untuk menggenjot pendapatan negara.

Yang kedua adalah visi ukhuwah atau persaudaraan, kita sadar, setiap mukmin adalah saudara, di sisi lain Raulullah SAW bersabda, seorang muslim dengan muslim lainnya adalah satu tubuh, jika yang satu merasakan sakit, yang lain akan merasakannya, kesadaran berukhuwah inilah yang mulai luntur oleh nilai-nilai individualisme, satu nilai yang menjauhkan manusia pada fitrahnya, sebab pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang bersaudara, zoon politicon. Banyak hadis-hadis yang menekankan pentingnya silaturahim sebagai perekat ukhuwah. Rasulullah SAW juga bersabda silaturahim akan memperpanjang usia, disini maksudnya, silaturahim akan membuat umur jadi berkah dan bermanfaat karena kita akan bertemu dengan orang-orang baik yang akan membantu kita. Orang yang rajin bersilaturahim akan disayangi dan dibantu orang lain jika dalam kesusahan. Lebih lanjut Ustadz Nur Hadi mengatakan, dari pertemuan terajut ukhuwah, dari ukhuwah akan tercipta kekuatan ekonomi sebagai penopang dakwah islam bagi visi selanjutnya. Selain itu visi ukhuwah akan membuat ruhiyah segar kembali, Ia bagian dari rihlah membuat semangat kerja dan belajarpun meningkat

Yang ketiga adalah visi dakwah atau penguatan penyebaran kebaikan. Ustadz Muhammad Nur Hadi mengutip ayat surat At Takatsur ayat 8 “Dan nikmat yang Allah berikan padamu, kabarkanlah” maksudnya, harta, ilmu yang dititipkan pada kita tidak boleh disimpan sendiri, tetapi harus diajarkan pada orang lain, inilah landasan dari visi dakwah atau penyebaran kebaikan. Dakwah berasal dari kada da’ayad’u dan da’wah yang berarti ajakan, menyeru pada yang ma’ruf dan mendegah pada kemungkaran, dalam wacana yang lebih luas, bisa pula ditafsirkan pada pengentasan kemiskinan, penguatan sumber daya tergantung dari siapakah subjek dakwahnya, apakah itu pemerintah, pengusaha dengan kemampuannya masing-masing bisa memilih jalan yang paling baik baginya untuk pemurnian akidah atau kepentingan kemanusiaan. Seorang da’I harus peka terhadap objek dakwah, apa yang dibutuhkan dan metode dakwah yang tepat, Ia harus jadi problem solver bagi onjek dakwahnya, apa yang dibutuhkan masyarakat, motivasi yang tepat apa yang bisa diberikan, sebab setiap kita adalah pendakwah dengan keahlian masing-masing, entah menjadi guru, pengusaha, pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah di masyarakat hingga problem keumatan. Mengutip dari Ustadz Hamim Tohari, salah seorang redaktur senior di Majalah Suara Hidayatullah, kecerdasan seseorang bisa terasah bila Ia menjadi problem solver bagi masalah-masalah keumatan, dengannya Ia bisa berpikir, menulis dan lain sebagainya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *