G
N
I
D
A
O
L

Bahasa Melayu, Bahasa Pergaulan Internasional, Bahasa Nasional Kita

 

Bahasa Indonesia tak in adalah Bahasa Melayu yang diadopsi dan akhirnya menjadi bahasa persatuan antar suku bangsa di Nusantara sekaligus sebagai bahasa penghubung dalam dunia internasional antar pedagang yang singgah di Selat Malaka. Ia dikukuhkan dalam Kongres Sumpah Pemuda tahun 1928, tetapi bagaimana hingga bahasa ini terpilih menjadi bahasa kita sehari-hari?

 

Ada sekitar 718 bahasa daerah yang tersebar di seluruh Nusantara mulai dari Sabang sampai Merauke yang tersebar di berbagai pulau-pulau dari Sumatera hingga Papua, itu belum temasuk logat dan dialeknya yang tentunya masih lebih banyak lagi. Bahasa Jawa misalnya, terbagi dalam logat jawa tengah yang lebih halus dan jawa timur yang lebih kasar, ada pula bahasa jawa ngapak yang punya logat yang berbeda pula.

Dengan keanekaragaman bahasa, logat dan dialek tersebut, mengapa bukan Bahasa Jawa yang dipilih dengan asumsi paling banyak penuturnya dan pusat pemerintahan juga berada disini? Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang sebagai bahasa nasional resmi ini tak lain adalah bagian dari bahasa Melayu. Bahasa ini dituturkan oleh suku-suku di Indonesia seperti Aceh, Deli-Serdang, Riau, Siak, Jambi, Palembang, Bangka-Belitung, hingga Lampung, atau hamper seluruh pulau di Sumatera. Ia juga dituturkan oleh bangsa-bangsa di Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina hingga Thailand Selatan (Pattani) masing-masing dengan logat dan dialek yang berbeda, juga bercampur dengan bahasa local setempat, namun tetap saja, menjadikan bahasa Melayu sebagai dasar bahasa mereka.

Hal ini karena negara-negara ini adalah satu rumpun dengan negara-negara tersebut, artinya memiliki akar budaya yang sama, pada saat itu negara-negar tersebu bagian dari Kesultanan Melayu yang menjadikan Islam sebagai dasar agamanya, dan pewaris dari kerajaan-kerajaan Melayu sebelumnya yang bercorak budha, yakni Sriwijaya dengan kekuasaan sampai di Birma, Myanmar, Kamboja hingga Thailand. Hal ini dibuktikan dalam sejarah, para pelajar dari Thailand, belajar agama Budha sampai ke Jambi (pusat kekuasaan Sriwijaya) Dengan demikian wilayah kekuasaan Sriwijaya lebih luas dari wilayah Indonesia sekarang.

Kata Melayu berasal dari Mala yang artinya hutan/ pegunungan dan Yuru yang artinya Sungai, secara lengkap berarti orang pegunungan di Sungai. Ia mulai dikenal sejak 682 M dalam prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo. Ia berhubungan dengan Tiongkok dan tercatat dalam kronik Berita Cina, Yijing seorang pendeta Tiongkok mengunjungi Sriwijaya pada 671 M, tetapi sebelumnya Ia singgah di Melayu yang ditulis dengan mo-lo-yu. Awalnya negara ini memang merdeka sebelum ditaklukkan oleh Sriwijaya tahun 682 M sampai sekitar lima abad.

Serangan Kerajaan Cola dari India ke Sriwijaya yang dipimpin oleh Rajendracola I pada 1025 M telah meruntuhkan Sriwijaya, tetapi menjadikan Kerajaan Melayu membebaskan diri dari pengaruh Sriwijaya, dan menamakan kerajaannya Dharmasraya, pusat kerajaannya pun berpindah di dekat Sungai Batanghari, Jambi. Puncak kejayaan Melayu berada di masa Adityawarman, namun kerajaannya pecah menjadi dua, Pagaruyung dan Jambi. Waktu itu Melayu telah menjadi kerajaan besar walaupun belum memeluk Islam, kebesaran Melayu dibuktikan dengan Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan Singasari untuk membuktikan Melayu merupakan kerajaan besar.

Salah satu keturunan Sriwijaya, Parameswara, yang menjadi penguasa di Palembang mendapat serangan dari Majapahit di masa Hayam Wuruk yang ingin memperluas kekuasaannya, Ia kemudian melarikan diri ke Singapura dan mendirikan kerajaan disana, bernama Malaka. Dari sinilah Ia kemudian memeluk Islam bergelar Sultan Iskandar Syah. Ia juga menikahi salah satu putri dari Samudera Pasai, salah satu kerajaan Islam di Sumatera. Di masa Sultan Muzaffar Syah, Ia menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.

Kerajaan Malaka ataupun Kerajaan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara sejak abad ke-14 M. Banyak para mubaligh dan pendakwah belajar disana, kemudian dikirim ke berbagai tempat di Nusantara, jaringannya hingga ke Turki Usmani, salah satu peradaban Islam global yang membuat gentar orang-orang Eropa, Ia adalah pengendali jalur dagang maritim yang membuat orang-orang Eropa mencari rempah-rempah sampai ke Asia Tenggara.

Adanya Selat Malaka juga memakmurkan kerajaan (baik Malaka maupun Samudera Pasai) karena berada di jalur perdagangan maritim yang menghubungkan Tiongkok, India dan Eropa, dengan pajak yang rendah dan keamanan menjadikan pelabuhan ini menjadi pelabuhan tersibuk di dunia. Marcopolo seorang pelaut dari Venesia yang berkunjung kesana telah melihat sendiri bagaimana Selat Malaka telah menjelma sebagai Laut Melayu dengan bahasa melayu pasar yang dapat dipahami oleh para pedagang dari Asia sampai Eropa. “Penduduk di pulau-pulau itu berbicara bahasa yang sama, meskipun berbeda kerajaan dan raja. Bahasa itu dipahami dari ujung utara hingga ujung Selatan (Sumatera) dari pula uke pulau.

Marcopolo juga melukiskan kerajaan-kerajaan di Melayu yang bernuansa Islam, seperti Kerajaan Perlak, padahal mereka dahulu adalah penyembah berhala, tetapi semenjak kedatangan orang-orang Saracen (muslim) yakni di wilayah-wilayah pesisir dan Pelabuhan, namun penduduk di pedalaman kemungkinan masih memeluk Hindu dan Budha.

Bahasa Melayu sendiri selain sebagai bahasa lingua franca—pergaulan Internasional juga diwariskan oleh para penyair, sastrawan Islam di masa itu seperti Hamzah Fansuri yang mengungkapkan kedekatannya dengan Tuhan lewat syair, juga bentuk sastra seperti prosa dan lain sebagainya, semua menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu pulalah yang dipakai oleh para pelajar Indonesia di Belanda untuk bercakap-cakap dengan sesama mereka, sekaligus menunjukkan rasa nasionalisme tentu saja sangat dipahami oleh berbagai suku di Indonesia, karena sebagiannya menjadi bahasa ibu mereka. Akhirnya kita patut berbangga karena sungguh tepat pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional kita karena bahasa ini lagi-lagi merupakan kontribusi umat Islam di nusantara lewat bahasa, bahkan dengan dipilihnya bahasa ini karena sudah dipahami oleh bangsa-bangsa lain di luar nusantara

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *