Masih tentang seputar kemerdekaan, salah satu simbol negara adalah sang saka merah putih. Di awal dikibarkannya adalah pada saat proklamasi kemerdekaan, dijahit oleh ibu negara Fatmawati dan dikibarkan oleh Latief Hendraningrat dan Suhud, tetapi bagaimana perjalanannya hingga dipilih sebagai bendera negara kita, ternyata erat kaitannya dengan akar tradisi Nusantara, Islam kemudian mengukuhkannya
Setelah proklamasi dikibarkan, bendera merah putih dinaikkan dengan diiringi oleh Lagu Indonesia Raya, tidak serta merta bendera dengan warna merah dan putih itu langsung dipilih, ttapi ada sejarah yang panjang. Namun yang jelas para pendiri bangsa pernah membuat sidang panitia pembentukan bendera kebangsaan yang dipimpin Ki Hajar Dewantara, pada 7 September 1944, hasilnya diputuskan bendera nasional kita adalah warna merah dan putih. Keputusan ini kemudian disahkan dalam sidang BPUPKI 9 Mei 1945
Namun bagaimana warna merah dan putih ini dipilih? Tak lain berakar dari sejarah yang panjang bangsa ini. Dari kebiasaan budaya masyarakat Nusantara untuk mengunyah sirih, kemudian ada ungkapan sekapur sirih, kapur berwarna putih dan sirih/pinang berwarna merah kalau dikunyah. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, menjadi kebiasaan Masyarakat Nusantara khususnya jawa yang membuat gigi jadi sehat.
Begitu pula dengan bubur merah putih yang sudah ada sejak masa Sultan Agung, yang dipersembahkan ke masyarakat pada saat awal Bulan Sura / Muharram, selain untuk memberi kemakmuran pada rakyatnya, juga karena dwi warna ini pernah dipakai di berbagai kerajaan. Di masa Majapahit pernah menggunakan panjinya dengan nama getih-getah. Getih atau darah warna merah dan getah warna putih, Ia juga disebut panji gula-kelapa, gula (aren) warna merah dan kelapa warna putih. Raden Wijaya mengobarkannya pertama kali saat 1293 M (pendirian Majapahit) yang berhasil mengalahkan Mongol. Ia juga dikenalkan dalam tanda pengenal kerajaan, hingga dikukuhkan dalam Kitab Negarakertagama (kidung 84) Luwirning inda nikang getih getah, mangkana saka banyu linurahaken
Begitu juga dengan Kerajaan Kediri (Pasukan Jayakatwang) menggunakan panji merah putih untuk melawan Kediri. Dari luar jawa, Kerajaan Bone di Sulawesi Selatan menggunakan panji perang merah putih yang bernama woromporang. Sedang di Kerajaan Singamangaraja dari IX hingga XII menggunakan bendera merah putih dan pedang kembar Piso Gajah Dompak di tengahnya. Begitu juga dengan Diponegoro Ia menggunakan merah putih dalam pasukannya saat melawan Belanda. Indpirasi dari Pangeran Diponegoro ini dipakai oleh para pelajar Indonesia di Belanda, dan terus dipakai pada Kongres Sumpah Pemuda pada tahun 1928 hingga dikukuhkanlah dalam sidang BPUPKI tahun 9 Mei 1945
Menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api sejarah 2, warna merah dan putih ini adalah bagian dari perbendaharaan yang diberikan nabi. Di dalam Kitab Al Fitan karya Shahih Muslim terdapat hadis dari Tsauban RA “Sesungguhnya Allah menyatukan bumi untukku sehingga aku mampu melihat kejayaan Islam di timur dan barat, dan Allah memberiku perbendaharaan merah dan putih.” Kemudian Ahmad Mansur berkomentar, para ulama membawa serta dua warn aini sebagai penghormatan yang melebur dalam budaya dan militer kerajaan
