Peringatan Maulid Nabi ini bukan sekedar seremoni untuk merindukan sosok Rasulullah SAW teladan kita saat mahalul qiyam, tetapi juga menghayati bagaimana para pecintanya memberi dukungan dan pembelaan atas musuh-musuh Islam yang mencoba melecehkan Beliau, juga Al Qur’an
Membicarakan sosok teladan Rasulullah, tidak bisa dilepaskan dari Al Qur’an, karena Beliau adalah Al Qur’an yang berjalan, melecehkannya berarti melecehkan Al Qur’an juga pesan Islam yang dibawanya, dari masa ke masa upaya dari musuh-musuh Islam ini banyak sekali. Masih terngiang-ngiang dalam benak kita mengikuti maulid al barzanji di malam kelahiran Beliau shalallahu alaihi wa sallam, pada saat mahalul qiyam, Nabi seakan-akan datang menyambut kita yang merindukannya, dan Beliaupun juga merindukan kita sebagaimana sabdanya, “akan datang diantara umatku nanti, orang yang rasa cintanya melebihi kecintaan kalian padaku.” Lantas Beliau melanjutkan lagi, “Kalau kalian (para sahabat) cinta kepadaku wajar, sebab kalian melihatku, mendengar nasehatku dan menyaksikan mukjizatku, tetapi ini ada satu kaum yang tidak pernah melihatku, tidak pernah mendengarku, tetapi rasa cintanya padaku sangat besar, merekalah yang aku rindukan, dan mereka juga merindukan aku”
Orang yang dirindukan nabi adalah KITA, di zaman akhir ini yang rela berdesak-desakan memenuhi langar dan masjid untuk ber-mahallul qiyam, KITA-lah umatnya yang kecintaan pada Beliau tidak hanya di bibir saja tetapi juga di dalam perilaku dan tindakan, kita tidak ingin Beliau dilecehkan seperti berbagai kasus yang hendak merendahkan sosok Beliau
Anta syamsun anta badrun-anta nurun fauqa nuri—Engkau bagaikan matahari, Engkau bagaikan bulan purnama
Sekitar sebulan lalu di sebuah pertunjukan musik di Ancol Jakarta, seorang MC yang pikirannya dalam kendali minuman keras, menawarkan minuman keras (tidak saya sebutkan merknya, karena tidak akan mempromosikan produk maksiat) kepada penonton yang bisa me-murajaah Surat Adh Dhuha sampai rampung. Anehnya, ada yang mau dan bisa melafalkannya sampai rampung, dan dihadiahi miras! Tentu ini sangat memprihatinkan kita, bagaimana dengan santainya mencampur-adukkan kebaikan dan kebatilan. Surat Ad Dhuha adalah surat yang sangat penting bagi Rasulullah, Ia adalah jawaban atas kegamangan Beliau setelah 6 bulan lamanya wahyu tidak turun lagi, dada Rasulullah sesak, Beliau hampir putus asa dengan kedudukan Beliau sebagai seorang nabi, hingga wahyu ini turun, memotivasi Beliau, Allah tidak meninggalkan Dia, tetap dalam dukungannya, bagaimana mungkin, dengan asbabun nuzul yang sedemikian dahsyat ini ayat-ayat ini dibaca dan dipermainkan dengan kebatilan, maka pantas saja umat Islam marah, meskipun tetap terkendali dan di berita-berita kita melihat pelakunya sudah ditahan, penyelenggara, MC-nya hingga penonton yang melafalkan tadi.
Anta iktsiru wa ghalli, anta misbahussuduri—Engkau adalah bahan emas yang tidak ternilai, engkau adalah pelita yang menerangi dada manusia
Mundur agak ke belakang, sekitar bulan Juni 2022, sebuah tempat hiburan malam di Jakarta,dan memiliki cabang di kota-kota besar (café Hollywings) menebar promosi di media sosial, barangsiapa yang memiliki nama MUHAMMAD dan MARIA akan diberi hadiah minuman keras gratis. Promosi konyol ini juga memancing kemarahan umat Islam, figur Rasulullah adalah figur suci, demikian pula dengan Maria atau Maryam (dalam Islam) adalah sosok perempuan yang menjadi teladan karena kesuciannya atau menjaga kehormatannya. Sekarang ini, dari 277 juta penduduk Indonesia, sekitar 18-24 juta nama Muhammad dipakai sebagai nama seseorang, belum lagi, peletakan nama Muhammad di tengah atau di belakang, hingga varian nama Muhammad, seperti Mohammed, Mahmud, Ahmad, dan lain sebagainya, ini menunjukkan identitas seorang muslim, juga karena harapan dari orangtua, jika diberikan nama Muhammad anak mereka memiliki perilaku dan dapat menjadi teladan seperti Beliau Rasulullah SAW junjungan Kita semua. Namun, para pembenci Islam berupaya menjadikan nama Muhammad dan Maria tidak berarti apa-apa, profan, sama seperti nama-nama lainnya. Namun untungnya, sebelum umat Islam turun dan memprotes, kafe itu telah ditutup, di masa Gubernur DKI Anies Baswedan.
Ya Habibi ya Muhammad, Ya ‘arusal khofiqoini—Wahai kekasihku, wahai Muhammad wahai pengantin tanah timur dan barat
Mundur ke belakang lagi, di tahun 2005-an, surat kabar terbesar di Denmark, Jylland Posten memuat karikatur Nabi Muhammad dengan surban dan di atas kepalanya terdapat bom, ini untuk menggambarkan citra negative Islam, dan Nabi Muhammad sebagai nabi umat Islam yang menggambarkan citra Islam yang ditegakkan dengan pedang atau agama para teroris. Ia berani melakukan itu karena prinsip kepercayaan akan kebebasan atau demokrasi yang tumbuh di Eropa tanpa menyadari demokrasi ada batas-batas toleransi, di era globalisasi, dimana tidak ada lagi sekat-sekat antar negara, arus informasi dapat tersebar dalam waktu singkat, warga negara Denmark adalah bagian dari warga dunia lain (warga dunia muslim) misalnya yang harus dijaga hak-hak dan identitasnya. Akibatnya sanksi sosial ekonomi diperlakukan untuk Denmark, larangan produk-produk Denmark masuk ke negara lain hingga kedutaan Denmark yang dibakar
Ya muayyad Ya mummajjad ya imamal qiblataini—Wahai yang dikuatkan (oleh Allah) Wahai pemmpin dua kiblat (Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa Palestina)
Di Indonesia sendiri yang notabene mayoritas Islam bukan berarti tidak pernah terjadi pelecehan Islam, malah sangat mengguncang dan dengan penghinaan yang begitu menjijikkan. Adalah surat kabar Jawa Hisworo dari Surakarta yang sebagian tokoh-tokohnya berasal dari organisasi thesosofi yang didirikan Helena Petrovna Blavatsky pada 1875 di New York, kemudian menyebar di berbagai negara termasuk Indonesia. Ia tidak mengatakan salah satu agama paling benar sendiri, tetapi menganggap semua agama sama. Karena itu, Ia mengambil saripati ajaran dari agama-agama seperti Budha, Kristen, Konghucu hingga Islam, khusus Yahudi yang diambil adalah mistiknya atau Kabbalahnya untuk diajarkan di Indonesia.
Disinilah letak kesalahan besarnya, mereka tidak mengakui posisi unik nabi sebagai utusan Allah yang sangat dihormati oleh umat Islam dengan berbagai kemuliaannya, tetapi dalam Jawa Hisworo mereka mengatakan Nabi Muhammad seorang pecandu atau pemakai zat aditif, hingga menerima wahyu pada saat Beliau dalam keadaan di bawah minuman tadi, tentu hal ini menyulut reaksi umat Islam, Tjokroaminoto, tokoh organisasi Sarekat Islam di Surabaya pada 1918 membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Ia bukanlah pasukan militer seperti yang kita bayangkan, tetapi adalah penyeru amar ma’ruf nahi mungkar yang tidak rela Islam dan nabi Muhammad dihina, bahkan orang islam yang awam sekalipun, tidak shalat dan tidak melakukan amal ibadah lainnya juga tahu, apa yang dilakukan oleh Jawa Hisworo telah menghinanya, mereka punya kesadaran yang tergerak dari hati nurani untuk membelanya, bukan karena bayaran atau janji-janji apapun.
Di dalam artikel yang berjudul “Pertjakapan Antara Marto dan Djojo” dua orang bercakap tentang agama, Marto meragukan agama Islam dan Djojo yang pada mulanya teguh membela Islam terkena bujukan oleh Marto, artikel ini membuat panas tokoh-tokoh dan organisasi Islam, mereka menggelar rapat akbar di Surabaya dan menuntut redaktur Jawa Hisworo diproses. Namun pada saat itu karena pengadilannya dari kolonial Hindia Belanda, hakim memutuskan tidak ada pelanggaran, ormas-ormas Islam tetap mematuhi jalur hukum tersebut, tetapi mereka kemudian memboikot harianl Solo tersebut sampai akhirnya benar-benar berhenti terbit di tahun 1919. Kasus ini mengingatkan kita pada kasus Jylland Posten, dimana pengadilan juga memutus koran tersebut tidak bersalah, tapi Masyarakat punya sanksi sendiri yang lebih ampuh untuk menghukumnya
Hauduka syafi’il mubarrad, wirduna yauman-nusyuri—Engkau hadir sebagai pemberi syafaat yang diizinkan oleh-Nya, Engkaulah cahaya di hari kebangkitan
Pelecehan di atas adalah sebagian kecil dari puncak gunung es yang tidak kita ketahui dan pastinya masih banyak lagi, bahkan sejak Rasulullah SAW diutus, bukankah Beliau sudah dituduh gila, tukang sihir karena mampu memisahkan anak dengan orangtuanya, kerabat satu dengan kerabatnya yang lain, gen-gen kebencian yang ditanam Abu Lahab, Abu Jahal itu telah diwariskan di zaman modern ini dengan maksud untuk memadamkan cahaya Islam, sekaligus meruntuhkan reputasi Muhammad, tetapi mutiara tetaplah mutiara meskipun berasal dari lumpur hitam akan tetap berkilau, atau Beliau adalah emas yang ditempa dengan berbagai macam ujian akan semakin berkilau.
Orang-orang yang membenci Rasulullah SAW bahkan Islam, adalah orang-orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri, mereka inilah orang-orang kafir (tertutup) hatinya oleh kebencian, padahal ada kebenaran yang terang benderang diperlihatkan, tetapi mereka tidak mau peduli. Padahal jika mereka mau jujur sedikit pada diri sendiri, hati nuraninya akan mengakui kemuliaan Rasulullah SAW, tokoh-tokoh kafir sekaliber Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) mengakui kebenarannya, bahkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari kalangan pendetanya (yang pandai memaca taurat dan Injil) mengakui akan kedatangan Rasul akhir zaman, dan itu bukan nabi di kalangan mereka, tetapi Nabi dari bangsa Arab.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 82 “Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan dari Rasulullah, kamu lihat mata mereka berair karena menangis disebabkan karena kebenaran yang mereka ketahui” asbabun nuzu ayat ini ketika ada utusan Nasrani dari Najran ke Madinah, lantas Rasulullah membacakan ayat Al Qur’an yang menyebabkan mereka menangis karena mengetahui kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah.
Dalam kisah lain, kita juga mendengar, sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah (Yatrib) lebih dulu mereka merencanakan untuk hijrah ke Habsyaha tau Ethiopia pada saat itu Raja Najasi dari Yaman yang berkuasa, para utusan Islam, diantaranya adalah Ja’far bin Abi Thalib banyak membaca surat Al I Imran yang mengisahkan Nabi Isa dan Maryam, hingga Raja Najasi berkomentara, “Nabi Muhammad dan Nabi Muhammad keluar dari relung kebenaran yang sama” artinya Ia menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan melindungi kaum muslim yang saat itu masih dikejar-kejar oleh kafir Quraisy.
Jika seorang non muslim mau menyingkirkan prasangka dan kebencian terhadap Islam dan Nabi Muhammad, maka mereka akan dapat berpendapat jujur, selain yang membenci, ada pula dari kalangan non muslim yang mampu mengakui kemuliaan dan kehormatan Rasulullah, salah satunya adalah Michael G Hart, seorang ahli fisika asal New York beragama Yahudi yang telah menulis 100 tokoh berpengaruh dalam sejarah dan menempatkan Rasulullah SAW sebagai tokoh nomor satu yang paling berpengaruh, setelah itu baru Isaac Newton, Isa al Masih, SIddharta Gautama dan Kong Hucu, tentu bukan tanpa sebab Ia menempatkan Rasulullah sebagai tokoh nomor satu paling berpengaruh, sebab hanya dalam waktu 23 tahun saja, Ia telah menjadikan Jazirah Arab yang tidak pernah tercatat dalam peta, menjadi penakluk-penakluk peradaban besar setelahnya, melalui Dinasti Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah dan terus bertahan dari abad ke 7 hingga 14, Islam telah menaklukkan Persia, Irak, Suriah, Turki, Tiongkok hingga ke Asia, bahkan ini menjadi sejarah pencapaian prestasi yang tidak pernah terjadi dalam peradaban sebelumnya, baik cakupan wilayahnya maupun durasi waktunya, walaupun sempat dikalahkan oleh Mongol pada abad ke 13 M, tetapi peradaban Islam muncul di tempat lain sebelum akhirnya mundur di masa kolonialisme, tetapi Ia tidak benar-benar hancur dan masih menjadi mayoritas pemeluk terbesar kedua setelah Kristen. Hampir 2,2 juta miliar Islam dipeluk penduduk dunia, sementara Kristen 2,4 miliar (selisih tipis)
Selain Michael G Hart, kita juga mengenal Martin Ling, Karen Armstrong, Montgomery Watt, para orientalis non muslim yang secara jujur telah menulis biografi Rasulullah, tak kalah dengan para penulis sirah dari kalangan Islam, tentu saja dari sudut pandangnya. Ada pula Annemarie Schimmel yang menulis islam dalam sudut mistik atau theosofinya, semua membuktikan, Rasulullah tidak hanya dicintai oleh pemeluknya sendiri, tetapi juga umat dari agama lain juga mengakui teladannya juga ajaran yang dibawanya walaupun pintu hatinya belum terbuka untuk memeluk islam.
Shallu ala nabi Muhammad …
