Setelah shalat zuhur hari sabtu (29/8) kemarin, tim sukses PPDB dari unit pendidikan, panitia dan tim Humas dari unit pendidikan dan Yayasan berkumpul untuk merencanakan strategi PPDB di tahun 2026-2027 mendatang, mereka juga mengundang ketua PPDB dari Sekolah Hidayatullah Kendal yang telah berhasil menyuseskan PPDB dari yang tadinya hanya 9 siswa di masa Covid, kini sudah lebih dari 70 siswa, bagaimana kiat-kiatnya?
Ustadz Mufti Wahyu Primadi, S.Pd adalah Ketua Bidang Ekonomi DPW Jawa Tengah sekaligus ketua tim PPDB Hidayatullah Kendal, yang sekarang memiliki 3 unit pendidikan KB, TK dan SD. Di tahun 2025-2026 kemarin mendapatkan sekitar 74 siswa. Kesuksesan itu baru diraihnya tahun lalu (melampaui target) walaupun di tahun-tahun terdahulu perjuangannya juga tidak mudah, apalagi di masa Covid yang hanya memiliki 9 siswa baru.
Tak hanya pasrah pada Allah, tetapi juga strategi pemasaran, memaksimalkan penggunaam media sosial juga tidak dilupakan. Namun menurut Beliau, cara paling efektif dalam menjaring siswa untuk masuk ke sekolah adalah lewat gethok tular atau dari mulut ke mulut. “Memang kita menggunakan media sosial, terutama IG, tetapi dibandingkan media sosial, kethok tular lebih efektif, karena biasanya calon murid kita itu punya hubungan dengan murid sebelumnya, entah itu tetangganya atau kerabatnya yang saling memberi testimoni, oh ini di sekolah itu bagus, dan lain sebagainya.”
Meskipun begitu, Beliau juga tidak mau meremehkan peran media sosial, baik dalam promosi maupun komunikasi. Ustadz Mufti membentuk tim khusus untuk melayani calon murid baru, Ia memeriksa WA tim PPDB dan melihat chatnya, bagaimana tim PPDB bertindak sebagai CS (Customer Servide), baaimana harus menjawab, bagaimana menggunakan kalimat-kalimat yang sekiranya memuaskan, dan itu ada standarnya. Tim PPDB ini menggunakan sarana Instagram sebagai sarana promosi, tetapi memang tim humas yang diamanahi mengurus itu memanfaatkannya dengan maksimal, “Tugasnya hanya sharing ke medsos, tidak mengajar dan tidak hadir ke sekolah, mungkin hanya 2 kali dalam seminggu” tetapi bukan berarti waktunya longgar, pekerjaannya justeru lebih panjang dari guru-guru karena untuk memproses video hingga dapat dilihat oleh penonton butuh waktu lama
Terkait dengan strategi pemasaran dari pengalaman yang Beliau lakukan, calon wali murid tidak langsung disodori harga yang harus dibayar, misal 7 juta, tetapi orangtua siswa calon siswa diberi keyakinan dulu, mengapa harus menyekolahkan di sekolah kita. Intinya adalah soal perincian biaya, itu ada di akhir, setelah mereka yakin barulah perincian biaya itu disodorkan, dengan cara begitu, calon wali murid kita tidak akan keberatan. Berkaca dari itu, terkadang strategi yang dilakukan oleh tim kita salah, sebelum mereka yakin untuk mendaftar di sekolah, perincian biaya sudah disodorkan. Kemudian tim PPDB kita mengatakan, “Bukankah semua itu kembali untuk anak kita? (fasilitas sekolah, buku, gedung dan lain sebagainya)
Seiring dengan merosotnya kelas menengah di Indonesia, sekolah kita nampaknya bukan berpangsa-pasar dari kelas menengah lagi, tetapi sudah menurun ke kelas pegawai dan pengusaha biasa, jika kita ngotot dengan biaya yang cukup tinggi untuk calon wali murid, maka mereka akan berpikir, “Apa yang saya dapatkan dengan pengeluaran segini? Atau anak saya dapat apa?” bukan tidak mungkin sekolah lain dengan harga lebih murah mendapatkan fasilitas yang lebih baik, maka mereka akan mencari sekolah lain.
Adapun strategi yang dilakukan oleh Ustadz Mufti adalah dengan memperbanyak diskon dan mempermainkan psikologis dari calon wali murid kita, maksudnya begini, memperbanyak diskon adalah meniru strategi yang dilakukan oleh mall-mall besar, misal di salah satu mall di Purwodadi ada baju seharga Rp 100.000 dengan diskon 20% + 10%, itu bukan berarti diskonnya 30 % tetapi 100.000 x20% = 20.000 Jadi harganya menjadi 80.000, sedangkan diskon kedua 10 % bukan dihitung dari 100.000 harga awal sebelum didiskon, tetapi dihitung dari 80.000 x 10 % = 8.000 Jadi harganya menjadi 72.000, sehingga potongan harga hanya 28.000, jadi total harganya 72.000 yang harus dibayar. Bandingkan jika langsung dipotong 30 % adalah 100.000 x 30 % =30.000 sehingga pembeli hanya perlu membayar 70.000. Dengan cara begitu seolah-olah, toko tadi bertabur diskon, padahal itu hanya salah satu cara untuk menarik perhatian saja, meskipun selisihnya tidak seberapa dibanding diskon 30 % persen langsung.
Selain itu Ustadz Mufti juga memanfaatkan hari besar islam, momentum-momentum tertentu untuk memotong harga, misal dengan kalimat-kalimat ajakan, “Hanya hari ini spesialis Bulan Maulid diskon 20 persen. Atau mereka yang memiliki saudara kandung adik maupun kakak yang sudah berada di Integral juga diberi diskon. Sebagai pamungkasnya, Ustadz Mufti hanya berpesan, “Jika saya menjadi wali murid, antara uang yang saya keluarkan dengan yang anak saya dapatkan pantas atau tidak, worth it atau tidak, sekolah harus mengimbanginya dengan fasilitas yang pantas, seperti AC (sebab sekolah mereka sampai sore) dan fasilitas-fasilitas yang lain sehingga orangtua tidak akan ragu-ragu mengeluarkan biaya jika apa yang kembali untuk anak-anak mereka juga sepadan
