Pembinaan mitra juang untuk seluruh kader Hidayatullah Purwodadi di bulan Agustus ini terasa Istimewa karena diselingi dengan perayaan kemerdekaan, olahraga volley bagi ikhwan dan jalan sehat bagi akhwat. Adapun acara inti, yakni tausiyah atau motivasi, Ustadz Suwarna banyak menyitir ayat yang cukup menohok untuk mengingatka kami, bagaimana seharusnya aktivis islam dalam berjuang
Hidayatullah sampai kapanpun akan menjadi lembaga perjuangan, kader-kadernya adalah para pejuang, yang semaju apapun kelak lembaga kita nanti, tidak semata-mata kita ‘meminta’ ganti atas jerih perjuangan kita, seolah-olah kitalah yang paling berjasa, padahal tidak selamanya seperti itu. Kutipan Abraham Lincoln yang banyak dikutip oleh aktivis Islam “Tanyakanlah apa yang telah kau berikan untuk negara, bukan apa yang negara bisa berikan untukmu” agaknya masih relevan dengan konteks kita sekarang dalam berorganisasi, wa bil khusus dalam ber-Hidayatullah “Hidup-hidupilah Hidayatullah, jangan mencari hidup di Hidayatullah”
Ustadz Suwarno menceritakan tentang seorang kader, Ia adalah seorang perintis, merasa apa yang telah dilakukan membuahkan hasil, kemudian meminta upah atas hasil usahanya, Beliau mengingatkan, dunia bukan tempat memetic atau memanen hasil, tetapi dunia adalah ladang amal, sepanjang hayat kita, bertanam dan bertanam. Merugilah orang-orang yang tidak memiliki visi akhirat, alias Ia hanya merasa nyaman di dunia, dalam bahasa Beliau “mangan wareg, sandangan rapet, turu anget”—makan kenyang, pakaian terpenuhi dan tidur hangat, lantas apa fungsinya seseorang dihidupkan? Ingat perkataan Buya Hamka “Kalau hidup hanya makan, kerbau dan sapi juga makan, kalua hidup hanya untuk bekerja, kera juga bekerja, lantas apa yang membedakan dirimu dengan hayawan?”
Alangkah pedasnya sindiran Buya Hamka, derajat manusia tinggi, karena manusia punya visi, tetapi jika tidak punya visi (akhirat), sungguh, manusia memiliki biologis yang sama seperti Binatang. Hayawan, atau hewan berasal dari bahasa arab yang artinya hidup, jadi hewan itu asal hidup saja mengikuti nalurinya, dalam bahasa Ustadz Suwarno lagi, siklus yang sama antara manusia dan hewan adalah melek, nyekek, nelek, golek, tuek, suwe-suwe matek—siklus manusia dimulai dari membelalakkan mata, lalu makan, habis makan lantas membuang hajat, setelah dewasa Ia bekerja, sama seperti manusia pada umumnya, hingga tua, kalua sudah tua, lama-lama meninggal. Kalau hanya seperti nilai kita sebagi manusia dimana?
Karena itulah agama menjawabnya dengan ayat-ayat-Nya yang bisa menjadi tamparan keras bagi para aktivis yang masih mengharapkan dunia, atau seorang muslim yang melupakan akhirat dan ridho dengan apa yang telah diberikan dunia untuknya, baik itu kekayaan, kemakmuran, kenyamanan dan keamanan. Allah berfirman dalam QS Yunus ayat 7-8 “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami. Mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan”
Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengomentari ayat ini (QS Yunus:7) sebagai orang-orang yang memiliki penyakit hati, sebab mereka mencakup 3 hal, tidak punya visi akhirat, cinta dunia dan takut mati (hubbud-dunya wa karahiyatul maut) merasa aman dan nyaman di dunia, merasa sudah mendapat kedudukan di dunia, sehingga dalam hati mengatakan, “Saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan, saya tidak perlu berjuang lagi untuk islam” lalai dari ayat Allah, tidak mau bermajelis lagi, tidak mau berkumpul dengan para pejuang lagi, tidak mau mentadabburi ayat-ayat Allah lagi, tinggal di menara gading yang tinggi dan nyaman sambil melihat orang-orang di bawah masih merangkak dan mengais-ngais dalam perjuangan, kemudian merasa dirinya jumawa sambil mengatakan “Ah, alangkah kasihannya mereka, untung aku sudah berada di posisi nyaman, sehingga tidak perlu berjuang lagi seperti mereka” maka sikap seperti ini bagian dari penyakit hati, sehingga pantaslah orang itu dibakar di neraka. Padahal apa yang kaum muslim masih mereka perjuangkan, itulah yang benar, sebab kita masih berada di dunia ladang amal yang terus kita cangkuli dan kita tanami
Vaksin yang tepat untuk melawan QS Yunus ayat 7-8 maksudnya agar kita tidak menjadi aktivis islam atau seorang muslim yang cinta dunia, solusinya adalah dengan mengingat mati, Allah memerintahkan kita untuk menulis wasiat sebelum meninggal, “Jika ini hari terakhirku, apa yang belum aku dakwahkan?” Yang kedua adalah Zuhud aktif artinya, mengambil dunia yang sedikit dan seperlunya saja, sisanya dipakai untuk sarana ibadah / dakwah kita pada Allah, atau mewakafkan diri dan badan kita untuk kepentingan Allah. Yang ketiga adalah dengan mentadabburi Al Qur’an, 5 ayat dalam sehari, atau jika saat ini yang selalu ada dalam genggaman kita adalah telepon pintar kita, alangkah baikmya jika kita menginstall aplikasi Al Qur’an, supaya itu tak hanya kita baca tapi kita juga renungkan artinya. Wallahu a’lamu bishshawab
