GNH atau kepanjangan Gerakan Nawafil Hidayatullah adalah sebuah gerakan amali yang dicanangkan oleh Ustadz Dr H.Nasirul Haq, Lc, MA (mantan Ketua Umum DPP Hidayatullah 2015-2025) untuk setiap kader Hidayatullah yang memiliki pengaruh yang bagus dalam kehidupan jasmani dan spiritual, seperti apakah gerakan tersebut dan mengapa di setiap daerah wajib mengikuti gerakan tersebut?
Di dalam situsnya Hidayatullah.or.id, setiap kader diwajibkan untuk memakmurkan masjid dengan cara shalat fardu berjama’ah dan shalat rawatib, membaca Al Qur’an minimal setiap hari 1 juz, rutin mendirikan shalat malam, membaca wirid pagi dan sore, dakwah fardiyah setiap pekan hingga merutinkan infaq. Para murabbi sering mengatakan, inilah senjata seorang mukmin sejati, yang memiliki banyak manfaat seperti shalat fardu akan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar (lihat QS Al Ankabut: 45), bahkan dengan shalat akan pelan-pelan memperbaiki hidup seseorang, sebab shalat merupakan puncak ketakwaan seseorang, shalat akan menjadi jalan keluar dari masalah-masalah kita, beribu-ribu orang dengan masalahnya masing-masing, mereka sama-sama rukuk, sujud dan tahiyat di hadapan Allah, dan semua itu akan dikabulkan Allah satu persatu, sebagaimana Allah berfirman dalam Al Baqarah: 45 “Mintalah tolong dengan sabar dan shalat” Tapi, bayangkan jika kita sudah punya masalah, dan kita tidak shalat? Disini GNH bukan bermaksud untuk memaksa, tetapi meneguhkan perintah Allah, sekaligus shalat itu akan kembali pada kita dalam berbagai bentuk kebaikan seperti terselesaikannya masalah-masalah kita dan lain sebagainya.
Selain shalat fardu, seseorang perlu menyempurnakan shalat fardunya dengan shalat rawatib, bagi seorang muslim kesempurnaan shalat fardu dalam kategori tepat waktu, berjama’ah dan di masjid bagi laki-laki, namun itu tidaklah cukup ketika shalat ada bacaan yang terlupa, atau tidak konsentrasi untuk mengingat Allah, maka perlu ditambal dengan shalat rawatib, shalat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat shalat fardu, keutamaan shalat rawatib adalah menambal kekurangan dari shalat fardu tadi. Namun satu keistimewaan adalah salah satu shalat rawatib qabliyah subuh yang disabdakan Rasulullah “Dua rakaat shalat sunnah rawatib qabliyah subuh lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR Muslim)
Begitu pula dengan amal ibadah lain, seperti membaca Al Qur’an, juga memiliki keutamaan lain,berpahala setiap satu huruf berpahala satu sebagaimana sabdanya, “Allah memberikan pahala Al Qur’an bukannya Alif Lam Mim satu pahala, tetapi Alif satu pahala, Lam satu pahala dan Mim satu pahala. Bagi mereka yang tidak lancar membaca Al Qur’an atau terbata-bata memiliki pahala lebih banyak. Tetapi bagi seorang kader—yang tentu sudah lancar dalam membaca Al Qur’an, paling tidak sehati mereka harus membaca satu hari sebanyak satu juz—one day one juz. Namun tidak semua orang dapat terbiasa membacanya selama satu juz jika tidak terbiasa, harus ada strategi khusus supaya dapat mencapainya. Jika tidak bisa membaca Al Qur’an sekali duduk mungkin bisa membaginya dengan lima kali waktu shalat, sehingga paling tidak setiap kali membaca 2 lembar tidak terlalu berat.
Tentang pelaksanaan shalat malam, KH Abdurahman Muhammad mengatakan, “Seorang kader yang tidak shalat tahajjud adalah cacat spiritualnya” Shalat tahajjud adalah kebiasaan orang-orang salafus-shalih, bahkan Al Qur’an akan menempatkannya dalam maqamam-mahmuda—tempat yang terpuji. Menurut para ulama, tempat terpuji itu adalah kedudukan yang tinggi di surga, Adapun di dunia mereka mendapatkan penghormatan dan kewibawaan. Bagi seorang guru, pemimpin suatu lembaga hingga kader, perlu menguatkan diri dengan amalan ini supaya kata-katanya menggetarkan, dan sikapnya berwibawa, kepercayaan dirinya penuh, demikian menurut para psikolog
Sementara itu wirid pagi dan sore juga penting untuk penjagaan, teringatlah kita pada sebuah hadis, bagaimana tugas malaikat bergantian, antara malaikat pagi dan sore, jikalau kita mengucapkan wirid pagi dan sore, berarti malaikat mencatat kita telah melakukan perbuatan baik. Begitu juga dengan dakwah fardiyah dalam praktiknya adalah bersilaturahim yang salah satu manfaatnya untuk memperpanjang usia, bukan jumlah umur kita yang bertambah, tetapi berkah dari umur itu yang bernilai. Sementara shadaqah atau berinfaq memiliki manfaat sebagai tolak bala, jika kita terbiasa bershadaqah maka akan menjauhkan kita dari musibah. Baik shalat fardu dan shalat rawatib, membaca Al Qur’an, shalat tahajjud, silaturahim hingga berinfak memiliki berbagai manfaat yang akan kembali pada diri kita, gerakan ini sungguh baik, bukan semata-mata memaksa seseorang untuk beribadah—karena tidak ada paksaan dalam beribadah, tetapi lebih pada menumbuhkan kesadaran, aka nada manfaat yang tidak kita sadari setelah melakukannya, namun manfaat itu bukan semata-mata materi tetapi juga Kesehatan, rizki, kelancaran dalam segala urusan, Allah urus semua masalah kita dan berikan jalan keluarnya dan lain sebagainya, Wallahu ‘alamu bish-shawab
