G
N
I
D
A
O
L

Imam Al Ghazali “Semua Anak Memiliki Jalannya Sendiri, Jangan Dipaksa!”

 

 

Pernahkah kita berkeinginan agar anak tumbuh menjadi sosok yang kita dambakan, tanpa terlebih dahulu bertanya apa yang sesungguhnya ia cintai dan kuasai? Menginginkan yang terbaik bagi anak tentu wajar dan mulia, namun memaksakan kehendak kita kepadanya justru dapat memadamkan cahaya potensi yang Allah sendiri telah tanamkan di dalam hatinya. Imam Al Ghazali punya pandangan yang sama, anak memiliki potensi kebaikan, lantas bagaimana penjelasannya lebih rinci?

 

Ratusan tahun yang lalu, Imam Al-Ghazali — ulama besar yang dikenal dengan kedalaman pemikiran sekaligus kelembutan hatinya — telah mengingatkan kita akan hal ini dengan sangat indah dan tegas. Beliau mengajarkan bahwa setiap anak lahir dengan pembawaan dan bakat yang khas, dan tugas kita sebagai pendidik bukanlah mencetak mereka sesuai keinginan kita, melainkan membimbing mereka menemukan serta menapaki jalan yang telah Allah tetapkan khusus untuknya.

Dalam kitabnya yang masyhur, Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa perbedaan bakat dan kecenderungan antar anak bukanlah kebetulan semata, melainkan ketetapan Allah yang penuh hikmah. Beliau menyampaikan bahwa setiap anak lahir dengan pembawaan yang berbeda-beda; ada yang diciptakan cenderung kepada ilmu dan pemahaman, ada yang memiliki jiwa keberanian dan kepemimpinan, ada yang unggul dalam keterampilan tangan dan karya cipta, dan ada pula yang diberi anugerah kepekaan serta kasih sayang yang mendalam. Seperti halnya benda-benda yang diciptakan dengan sifat berbeda — tidak semua besi dapat dijadikan pedang, tidak semua kayu cocok dijadikan tiang bangunan — demikian pula setiap manusia membawa benih potensi yang unik. Tugas kita adalah menyirami dan merawat benih yang sudah ada agar tumbuh sehat dan mekar sesuai karunia Tuhannya.

Imam Al-Ghazali juga memperingatkan bahaya jika kita memaksakan anak menekuni jalan yang bukan miliknya. Memaksa seorang anak menempuh hal yang tidak sesuai dengan pembawaannya, kata beliau, ibarat memaksa benih padi tumbuh subur di tengah gurun yang tandus. Akibatnya, anak akan merasa tertekan, kehilangan semangat, dan terus-menerus merasa tidak mampu meskipun sebenarnya ia memiliki kemampuan luar biasa di bidang lain yang mungkin belum ditemukannya. Waktu, tenaga, dan kesempatan pun terbuang sia-sia, dan yang lebih menyedihkan, ia dapat tumbuh membenci proses belajar serta kehilangan kepercayaan diri yang seharusnya dijaga sejak dini. Beliau memberikan perumpamaan yang sangat mendalam: jika seekor burung dididik untuk berlari kencang dan seekor kuda dipaksa untuk terbang tinggi, keduanya akan kelelahan sepanjang hidupnya tanpa pernah mencapai keunggulan apa pun.

Lalu, bagaimana cara mendidik yang benar menurut pandangan beliau? Langkah pertama adalah mengamati, bukan langsung menentukan. Perhatikanlah apa yang membuat anak bersemangat, apa yang ia kerjakan dengan sukacita tanpa disuruh, dan di mana ia tampil istimewa dibandingkan hal-hal lain. Kecenderungan hatinya itu sendiri adalah petunjuk Allah tentang arah yang sebaiknya ia tuju. Berikanlah ruang kepadanya untuk mengenal dirinya sendiri, mencoba hal-hal yang baik dan bermanfaat, lalu amati mana yang membuatnya makin berkembang dan makin bahagia. Bimbinglah ia sesuai dengan apa yang terlihat dari potensinya, bukan apa yang kita inginkan darinya. Jika ia cenderung kepada ilmu, arahkanlah kepada bacaan dan lingkungan yang menumbuhkan pengetahuannya; jika ia cenderung kepada keterampilan, ajarkanlah keahlian yang bermanfaat dan mulia; jika ia memiliki jiwa pemimpin, latihlah tanggung jawab dan keadilan sejak dini. Dan di atas segalanya, perbanyaklah berdoa kepada Allah, karena Dialah yang paling mengetahui apa yang tersimpan di dalam setiap jiwa. Serahkanlah urusan anak kepada-Nya, dan biarkanlah kecenderungan yang Allah tanamkan, semoga kita mampu mendidik anak kita sesuai potensinya, Wallahu a’lamu bishshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *