G
N
I
D
A
O
L

Takdir Allah Dalam Kemerdekaan Indonesia

 

Bangsa Indonesia menagih janji kemerdekaan sejak pertama kali Jepang datang ke Indonesia sebagai saudara tua, janji yang kemudian hanya diulur-ulur dan nampaknya hanya untuk ‘mengambil hati’  bangsa Indonesia, yang kenyataannya Jepang lebih kejam daripada Belanda dalam menjajah, hingga situasi dan keadaan politik, campur tangan Allah menakdirkan kemerdekaan untuk bangsa ini, bagaimana ceritanya?

 

Bangs aini pernah ditipu Jepang mentah-mentah saat Ia datang pertama kali ke Indonesia dan mengaku sebagai saudara tua, dengan semangat 3 A Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia dan Nippon Pemimpin Asia telah membuat bangsa Indonesia terkecoh, menyerahkan para pemudanya untuk dididik oleh Heiho atau Peta, padahal sebetulnya untuk memperkuat pasukan mereka dalam Perang Asia Pasifik atau bagian dari Perang Dunia Kedua, setelah Jepang berhasil menghancurkan pangkalan AS di Pearl Harbour, Ia juga menaklukkan sebagian wilayah Asia seperti Filipina, Hongkong, Taiwan, Birma hingga Indonesia, ternyata semua negara itu dimanfaatkannya untuk menghimpun pasukannya.

Di Indonesia, Belanda berhasil diusir Jepang, kemudian mereka menguasai Indonesia, dan perlahan-lahan Jepang sebagai saudara tua berubah wataknya jadi musuh utama. Mereka mulai memaksakan agamanya, Shinto, menyembah Dewa Matahari, bangsa Indonesia yang mayoritas Islam disuruh membungkuk menghadap ke timur (ritual seikerei), kewajiban menyanyikan lagu Kimigayo, mengibarkan bendera Jepang (Hinomaru) setiap pagi. Mereka juga mengganti bahasa Belanda di sekolah-sekolah menjadi bahasa Jepang, hingga melarang kurikulum Islam diajarkan di sekolah-sekolah. Mereka juga menjadikan surat kabar sebagai alat propaganda / corong penguasa seperti Pandji Poestaka dan Asia Raya yang sebenarnya berasal dari pribumi, tetapi diawasi ketat oleh Jepang.

Para Ulama marah dengan sikap Jepang untuk ber-seikerei, sebab hal tersebut bertentangan dengan akidah Islam untuk menyembah selain Allah, mereka kemudian disiksa hingga dibunuh. Diantaranya adalah KH Hasyim Asy’ari, Ia berfatwa mengharamkan Sikerei, akibatnya Ia ditangkap dan disiksa tangan kanannya sampai patah permanen akibat siksaan Jepang, tapi Ia menolak menyerah, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah. Adapula KH Zainul Mustofa seorang ulama asal Singaparna Jawa Barat, Ia menolak terang-terangan melakukan Seikerei, akibatnya Ia disiksa lalu dibunuh

Pada 6 dan 9 Agustus 1945 AS mengebom kota Hiroshima dan Nagasaki mengakibatkan sejarah mengalami titik balik, Jepang menyerah pada pasukan sekutu, Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat diundang oleh Panglima Angkatan Darat Jepang Hisaichi Terauchi di Dalat, Saigon, Vietnam, Ia menyetujui kemerdekaan Indonesia, sekembalinya di tanah air, Hatta mengatakan hal itu pada Sutan Syahrir yang mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Soekarno bukannya tidak mau, tetapi Ia tidak mau gegabah, penuh perhitungan, sebab Ia sendiri belum percaya Jepang menyerah begitu saja, jangan-jangan itu strategi Jepanga tau sekutu, di sisi lain, masih banyaknya kaum ‘londo ireng’ diantaranya adalah para pendukung Ratu Wilhelmina, pejabat bumiputera yang bekerja untuk Belanda, hingga pemimpin negara bagian (federal) di bawah kolonial Belanda yang merasa jika Indonesia akan lebih maju di tangan Belanda.

Sikap dari orang Jepang sendiri juga terbelah, di satu sisi ada yang mendukung kemerdekaan Indonesia seperti Laksamana Muda Maeda yang menjadikan rumahnya dijadikan tempat untuk membuat naskah teks proklamasi, sedangkan yang tidak setuju adalah Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum Pemerintahan Muliter Jepang. Saat Soekarno bersama Maeda kesana, Ia justru mengatakan, pemerintah Tokyo harus mempertahankan status quo pemerintahan Jepang di Indonesia, Sokarno lantas menyindir Nishimura, “Apakah ini sikap seorang Bushido—ingkar janji agar dikasihani sekutu?” Bushido adalah salah satu falsafah Jepang di era keshogunan zaman edo yang berlandaskan samurai, Shinto hingga buddhisme, Ia menerapkan prinsip keadilan, keberanian dan mati secara kesatria jika berkhianat.

Walaupun golongan muda telah membujuk seperti Syahrir, Wikana, hingga Ahmad Soebardjo untuk memerdekakan Indonesia, bahkan telah menculik ke Rengasdengklok agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh Jepang, jawaban Soekarno tetap sama, masalah kemerdekaan adalah urusan PPKI, bukan urusannya, meskipun hal itu bertentangan dengan hati kecilnya, “Apakah benar kemerdekaan ini sudah dekat?” pikirnya dalam hati. Ia pernah dipenjara di Penjara Banceuy Bandung karena aktivitasnya sebagai Ketua Umum Partai Nasional Indonesia dianggap membahayakan pemerintah kolonial karena Ia mengusung ideologi kemerdekaan, tetapi justeru disinilah Ia bertemu dengan seorang ulama tua bernama Mbah Kasan yang mengatakan pada Soekarno

“Jangan bersedih Tuan Soekarno, Engkau tidak akan mati dipenjara, Engkau akan keluar dari sini dan kelak kau akan memimpin bangsa ini, tidak sampai ratusan tahun, tidak sampai puluhan tahun, kemerdekaan ini akan datang, Engkau yang akan memproklamirkannya”  demikianlah peenuturan  Kyai Kassan sebagaimana dikutip Soekarno dalam buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams. Soekarno yang waktu itu sangat menderita, Namanya sempat tenggelam dalam percaturan politik kebangsaan, dan merasa perjuangannya sia-sia, kembali memiliki semangat, dan hari itu tanggal 16 Agustus, malam hari atas desakan para pemuda meminta kemerdekaan harus disegerakan

Badan Soekarno panas dan menggigil, Ia mengalami demam hebat, naskah dirancang oleh Hatta pada alinea pertama dan Ahmad Soebardjo pada alinea kedua, keesokan harinya di rumah Faradj bin Said bin Awad Martak, seorang pengusaha muslim dari Hadramaut yang menghibahkan rumahnya untuk Soekarno, tepatnya di Jl Pegangsaan Timur no 56 Jakarta, pukul 10.00 WIB proklamasi itu dibacakan, tetapi sebelumnya Soekarno sempat tertidur sampai pukul 09.00 karena demamnya makin hebat, hingga Faradj memberinya madu agar sakitnya sembuh dan tenaganya pulih.

Tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan pada hari Jumat Wage tanggal 9 Ramadhan 1345 H adalah hari yang penuh berkah, pertama karena dibacakan pada hari jumat, sebagai penghulunya hari, kedua pada saat bulan Ramadhan yang penuh berkah, tentu ini sebuah ketetapan yang indah dari Allah untuk bangsa Indonesia, terkhusus umat Islam, karena sebagaimana kita tahu, Bulan Ramadhan adalah bulan yang penting bagi umat Islam, bulan Ramadhan adalah bulan saat umat Islam pertama kali berjuang di Badar, 313 pasukan muslim melawan 1000 lebih pasukan kafir Quraisy yang mustahil dimenangkan, tetapi akhirnya menang, artinya memang bulan Ramadhan adalah simbol kemenangan umat Islam dan simbol kemenangan bagi bangsa Indonesia, seluruh elemen bangsa memiliki kontribusi penting bagi kemerdekaan Indonesia, termasuk umat Islam. []

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *