Dony (25 th) bukan anak pejabat, tetapi Ia anak orang biasa, punya mimpi besar, menjadi orang sukses dunia dan akhirat, tetapi Ia sadar aksesnya terbatas, tidak punya koneksi orang dalam, tidak punya pendidikan tinggi, satu-satunya jalan adalah aksesnya pada pintu langit, sebab kedudukannya sebagai seorang hamba tidak terhalangi oleh status sosial dan keadaan apapun, dan satu hal lagi ada satu kebiasaan kecil yang tidak pernah ditinggalkannya lagi dan mempengaruhi hidupnya hingga berada di posisinya saat ini, apa itu kita simak kisahnya, bahkan kisah ini bisa kita terapkan dalam kurikulum sekolah kita
Dony kini menjadi asisten development dan konsultan agency sebuah perusahaan konstruksi di Jakarta. Tapi untuk sampai pada titik ini bukan hal yang mudah. Ia sadar dirinya bukan siapa-siapa, kemampuan akademiknya juga biasa-biasa saja, Ia berasal dari kabupaten di Majalengka, semasa sekolahnya (SMP dan SMA) tak memiliki biaya, kotanya tak punya jaringan internet yang ngebut seperti di kota besar, juga fasilitas bacaan seperti perpustakaan juga jarang ada di kotanya. Namun Ia tak menyerah, kalua akses terhadap dunia terbatas, Ia akan mengadu sumber dari segala sumber akses yakni Allah SWT disitulah Dony meminta baik dikala tahajjud maupun dhuha-nya, bahkan ada satu kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya. Ia akan membaca beberapa lembar Al Qur’an, 10-15 menit sebelum belajar, sebelumnya Ia tidak tahu apa manfaatnya dengan kebiasaan itu, ada semacam dorongan di dalam hati untuk melakukannya, hingga akhirnya Ia sendiri mempelajari apa manfaat di baliknya, dan membuatnya sampai di titik ini
Pria yang kini punya pekerjaan mentereng di sebuah perusahaan konstruksi di Jakarta membagikan kisahnya, secara financial Ia sudah tidak perlu khawatir tentang keuangannya, tetapi dia kini lebih dikenal sebagai motivator Al Qur’an, menjadi pembicara untuk perusahaan-perusahaan yang ingin mengembangkan SDM-nya dengan membekali mereka dengan membaca Al Qur’an sebelum pkerjaan dimulai, apakah itu sekolah atau tempat pekerjaan. “Hanya saja syaratnya, untuk membaca Al Qur’an ini tidak dijadikan beban atau prasyarat, namun sebuah kesadaran yang tumbuh dalam diri” katanya dalam sebuah seminar.
Menurutnya lagi, manfaat membaca Al Qur’an sangatlah banyak, salah satunya adalah meningkatkan konsentrasi untuk lebih fokus sebelum memulai pekerjaan atau belajar. Saat Al Qur’an dibaca detak jantung melambat, hembusan nafas melambat, hormon kortisol menurun sehingga pada saat itu konsentrasi meningkat, pintu terbuka bagi ilmu pengetahuan untuk diserap. Sebagaimana kita tahu, gelombang otak pada manusia terbagi menjadi 2, Beta dan Alfa. Pada gelombang beta, pikiran manusia mengalami ketegangan, berantakan, buntu atau sulit berpikir, Ia berada pada frekuensi 14-30 Hz. Manusia berada di gelombang beta ketika kesadarannya penuh, pikirannya sibuk oleh keadaan atau situasi yang dihadapinya.
Bayangkan ketika bangun dari tidur kita bangun shalat subuh, berada di gelombang alfa. Lantas saat membelah jalan melewati kota yang sibuk, lalu lintas yang padat, gelombang otak kita berubah dari alfa ke beta, mood menjadi jelek, pada saat pikiran tegang dan berantakan tersebut kita langsung belajar atau bekerja, maka bisa dipastikan pekerjan kita jadi sulit konsentrasi, jikapun belajar juga sulit terserap, maka kuncinya harus dikembalikan lagi dari gelombang beta atau alfa, seperti yang dilakukan oleh Donny dan kawan-kawannya yang bergerak di bidang ini, inilah dasar pemikiran mengapa meluangkan waktu untuk membaca Al Qur’an, 10-15 menit sebelum pembelajaran atau memulai pekerjaan itu sangat perlu.
Dalam konteks sekolah, apalagi sekolah islam, pemikiran Donny bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Jika kita berbicara pada sekolah Integral, sudahkah itu dilaksanakan? Saya kira perlu ditingkatkan lagi, selama ini yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah dengan memperdengarkan murattal Al Qur’an saat mereka sampai di sekolah, kemudian mengawali hari dengan shalat duha, zikir pagi dan pembacaan asmaul husna, tanpa sadar telah mengubah gelombang beta peserta anak-anak menjadi alfa kembali. Dan, di sela-sela pembelajaran, bagi para ustadz-ustadzah, membaca Al Qur’an di awal pembelajaran sebagai bagian dari hidden kurikulum hingga mengganti 5-10 menit ice breaker nampaknya boleh juga untuk membuka / mengaktifkan gelombang alfa mereka sebelum pelajaran dimulai/ []
