G
N
I
D
A
O
L

Guru, Profesi Masa Depan yang Takkan Tergantikan oleh Robot/ Ai

 

Kelak, di masa depan beberapa profesi yang dulu dilakukan manusia akan digantikan oleh robot. Tak bisa dielakkan, teknologi akan semakin berkembang pesat dan membantu pekerjaan manusia. Lantas bagaimana dengan pekerjaan guru apakah juga akan tergantikan oleh robot

Laporan setebal 300 halaman yang berjudul The Future of Jobs  diterbitkan oleh Merryl Linch begitu mengguncang para pekerja, karyawan kantor, pabrik hingga pekerja kasar lainnya karena kabar buruk yang menimpa mereka, 47 persen pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot dalam 20 tahun ke depan. Persentase terbanyak berada pada industri manufaktur dan jasa.

Bahkan sejak tahun 2016, Forum Ekonomi Dunia telah memperkirakan ada sekitar 5-7 juta orang di dunia kehilangan pekerjaannya selama 2015-2020 karena digantikan oleh robot. Robot yang tak perlu makan, minum, mencukupi kebutuhan anak istri mendapatkan porsi utama dalam pekerjaan karena efisiensinya dan juga tak perlu menggajinya.

Robot itu tentu sudah mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar yang biasa dilakukan manusia untuk mengoperasikan mesin-mesin pabrik misalnya. Sekarang ini bahkan pekerjaan seperti tukang parkir. penjaga pintu tol, resepsionis, akuntan, konsultan pajak hingga agen asuransi, petugas perpustakaan hingga petugas keamanan bisa dilakukan oleh sebuah robot. Namun jangan bayangkan robot yang dimaksud seperti robot honda Asimo yang bisa berjoget.

Tetapi robot yang dimaksud adalah Artificial Inteligent (AI)—kecerdasan buatan, yang banyak menjadi bahan perbincangan orang-orang di seluruh dunia. Menurut Nazim Machreza Services and Business Development dari Renom Infrastruktur Indonesia (GRID Inc) yang merupakan perusahaan pengembangan AI yang bermarkas di Jepang mengatakan AI adalah kecerdasan manusia dalam mesin yang diprogram untuk berpikir seperti manusia dan meniru tindakannya. Kalau dielaborasikan lagi pemrograman untuk membuat simulasi kecerdaan manusia  merupakan bagian dari ilmu komputer, dengan kata lain komputer dapat meniru cara berpikir cara berpikir dan bertindak seperti manusia.

Karena itu perlu jumlah data yang luar biasa massif (big data) selain itu juga dikembangkan machine learning dimana komputer dapat diprogram untuk mempelajari sendiri data yang diberikan, otomatis membuat AI semakin pintar.

Apabila guru-guru tidak kreatif dan tidak melakukan pendekatan emosional, bukan tidak mungkin pekerjannya kelak akan digantikan oleh robot atau AI. Pakar pendidikan Inggris Anthony Sheldon mengatakan ini dalam Festival Sains Inggris di tahun 2017 lalu. Pernyataannya itu dimuat dalam futurism.com dan sangat menampar guru-guru di seluruh dunia, tetapi juga melecut guru-guru di seluruh dunia untuk membuktikan pernyataan Sheldon salah, guru-guru takkan digantikan oleh robot

Sheldon memprovokasi seluruh guru di dunia dengan pernyataannya yang kontroversial, sebelum tahun 2027, guru-guru manusia akan digantikan oleh guru-guru robot. Guru-guru robot ini dihadirkan karena program UNESCO karena 70 persen anak-anak di Asia Tenggara dan Afrika mengalami putus sekolah dan sekitar 26% di Asia Tenggara dan 56% Afrika guru-gurunya belum profesional. Untuk memenuhi kebutuhan itu tak mungkin bisa mendatangkan guru dalam waktu cepat karena mereka butuh proses untuk bersekolah, sertifikasi dan lain sebagainya, namun hal itu bisa digantikan oleh robot yang sudah diprogram sesuai kebutuhan.

Robot-robot itu juga tak perlu digaji, sertifikasi, tak perlu cuti dan juga tidak akan terlambat ke sekolah. Admin cukup mengunggah bahan ajar apa yang dibutuhkan maka robot akan mengajar tanpa memandang status sosial, gender, ras dan sosial, dengan kata lain Ia akan sangat objektif

Bahkan guru AI ini bukan sekedar wacana, tetapi telah benar-benar mengajar murid-murid di Auckland, New Zealand. Murid-murid menyebut guru avatar bernama Mr Will, besutan dari Vector dan Soul Machine. CEO Vector, Nikhil Ravishankar ini melihat reaksi anak-anak pada Mr Will dengan takjub. Mungkin anak-anak akan merasa aneh sebab Mr Will berada di dalam komputer atau laptop mereka, tetapi pada akhirnya anak-anak suka karena Mr Will akan menjawab apapun yang mereka tidak tahu tentang turbin, angin, matahari dan apapun yang berkait dengan materi pelajaran mereka. Mr Will mampu menjawab dengan memuaskan, sesekali nampak tersenyum dan memperhatikan, betapa persisnya dengan guru-guru mereka sendiri.

Inilah prototipe guru-guru masa depan yang bisa dirasakan hari ini, dan benar-benar akan menjadi fenomena baru di dunia pendidikan jika para guru tak segera membenahi cara mereka mengajar. Dalam diskusi yang digagas oleh Forum Ekonomi Dunia, pekerjaan seperti guru dan petugas keamanan tak bakal terkena disrupsi teknologi asalkan guru bisa lebih kreatif, dalam bahasa yang lain apabila guru-guru ini lebih menekankan pada praktik. Membayangkan manusia masa depan berarti nantinya seluruh pekerjaan kasar bisa dilakukan oleh robot, sementara pekerjaan yang menggunakan pikiran dilakukan oleh manusia

Sekalipun peran keguruan yang dilakukan oleh AI tergolong canggih jelas Ia tak bakal bisa menangani sekian ratus karakter anak yang berbeda, tak bisa mengajar dengan hati, emosi, tak bisa memberikan pendekatan personal pada anak didik yang kurang mampu menyerap pelajaran. Terpaku pada satu program monoton dengan bentuk komunikasi tatap muka saja. Bahkan AI adalah model pembelajaran gaya lama dengan bentuk ceramah dan tanya jawab. Bahkan ruh guru, spiritual guru, gaya dan sosok guru dengan gesture dan mimik wajah takkan bisa digantikan oleh guru-guru manusia.

Terlalu jauh untuk menggantikan peran guru manusia dengan berbagai perasaan dan emosinya dengan robot yang tidak memiliki perasaan dan emosi. Juga landasan etisnya, bagaimana cara kita menghormati sebuah guru robot? Jangan-jangan kita hanya terkagum pada teknologinya tapi setelah bosan, guru-guru itu kita campakkan karena lebih monoton dari guru manusia ciptaan Tuhan? []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *